Langsung ke konten utama

DIANTARA ALARM DAN LANGIT YANG TERBUKA

 Cerita Pendek ICU

ICU ruang yang sering terasa mistis bagi sebagian pengunjung. Ada jeda di langkah, ada getar yang sulit dijelaskan sebelum tangan menyentuh gagang pintunya. Secara psikologis, ruangan ini sudah lebih dulu berbicara: tentang penyakit yang berat, tentang batas tipis antara harapan dan kemungkinan terburuk.

Suara alarm monitor yang bersahutan, ritmis namun tegas, kerap menambah kesan mencekam. Bunyi yang bagi tenaga kesehatan adalah bahasa data dan tanda kehidupan, bagi keluarga bisa terdengar seperti dentang kecemasan. Di tengah cahaya lampu yang tak pernah benar-benar redup, suasana terasa padat, bukan hanya oleh alat dan prosedur, tetapi oleh doa-doa yang menggantung tanpa suara.

ICU tidak pernah benar-benar tidur.

Jam 02.17.

Monitor di Bed 3 berbunyi lebih sering dari biasanya. Gelombang bedside monitor kehilangan tinggi dan ritmenya. MAP turun perlahan. Saturasi merosot seperti matahari yang tenggelam terlalu cepat, tanpa warna jingga, langsung gelap.

Puri, perawat penanggung jawab pasien, yang pertama menyadari perubahan itu. Ia tidak panik. Tangannya bergerak sistematis, cek transduser, cek ventilator, pastikan tidak ada clothing pada tubing, pastikan angka itu bukan artefak.

“Dok, MAP 54. Norepi sudah 0,3 mcg/kg/menit.”

Dokter Dita mendekat. Tatapannya cepat membaca monitor, ventilator, pompa infus.

“Mulai tidak stabil. Laktat terakhir?”

“Delapan. pH 7,19. PaO? 60, PCO? 60. Turun meski FiO? 100%.”

Didik yang sedari tadi di pantry segera ke Bed 3. Ia memeriksa akses sentral, memastikan kembali tidak ada masalah mekanis. “Line masih baik, Dok.”

Di sisi kiri tempat tidur, Puri berdiri lebih dekat. Satu tangannya tetap di atas rel bed, satu lagi menggenggam tangan pasien yang mulai dingin.

Pak Rahmat. Enam puluh dua tahun. Sepsis berat akibat pneumonia. Tiga hari kami bertahan bersama tubuhnya. Tiga hari pula tubuh itu perlahan menyerah pada badai inflamasi sepsis yang tak terlihat.

ICU adalah tempat kami terbiasa melawan kematian. Namun ada malam-malam tertentu ketika kami tahu—yang kami lakukan bukan lagi membalikkan keadaan, melainkan memperpanjang jeda.

“Siang tadi sudah loading cairan 500 cc,” kata Puri pelan. “Parunya penuh ronki, Dok.”

Dokter Dita mengangguk tipis. “ARDS progresif. Septic shock refrakter. AKI.” Semua istilah yang di buku tersusun rapi, kini hadir lengkap di satu tubuh.

Secara patofisiologi, penjelasannya sederhana:

  • Inflamasi sistemik masif.
  • Vasodilatasi luas.
  • Kebocoran kapiler.
  • Hipoksia jaringan.
  • Kegagalan multi-organ.
  • AGD menunjang,

Ilmu merangkainya dengan elegan. Algoritme jelas. Dosis terukur. Parameter terdefinisi. Namun tidak ada textbook yang menjelaskan rasa sesak di dada, pada pasien yang napasnya kian berat, dan pada kami yang menyaksikan angka-angka itu perlahan turun tanpa bisa diajak bernegosiasi. Tidak ada guideline yang membahas tentang keheningan yang muncul ketika alarm berhenti berbunyi.

Bunyi yang sejak tadi memecah malam, tiba-tiba lenyap. Layar monitor menjadi garis datar yang sunyi.

Sebelum di sela hening itu, sempat terlihat Puri mendekat kembali. Ia menunduk di sisi telinga pasien. Suaranya sangat pelan, nyaris tak terdengar oleh siapa pun selain yang hendak pergi. Sebuah bisikan pengantar, bukan instruksi medis, bukan angka, bukan protokol, melainkan kalimat yang mengantar pulang.

Hening di sepertiga malam.

Pasien DNR, tak ada lagi perintah dosis. Tak ada lagi penyesuaian ventilator. Yang tersisa hanyalah ruang, napas terakhir yang telah selesai, dan kami yang berdiri dalam diam yang khidmat.

Di antara alarm dan langit yang terbuka, kami tetap bekerja.
Karena selama masih ada denyut, sekecil apa pun, kami akan berdiri di sana.

Dan ketika denyut itu menjelang berhenti, kami menunduk, lalu membisikkan kalimat mulia yang menjadi penutup perjalanan:

La ilaha illallah.

Tim merasa telah bekerja optimal. Tidak ada intervensi yang tertinggal, tidak ada langkah yang dilewatkan. Ketika keluarga mengucapkan terima kasih dengan mata sembab dan suara bergetar, lalu memohon maaf atas segala hal yang mungkin terasa kurang, ada kelegaan yang perlahan turun ke dada. Bukan lega karena kehilangan—tetapi lega karena amanah telah ditunaikan sebaik mungkin.

Pagi itu di pantry, aroma ICU dan berjejernya cromebook. Anik duduk diantara tim pagi dan tim malam. Ketegasannya selalu hadir, tetapi dibungkus kelembutan yang membuat orang merasa didengar. Laporan jaga dipimpin Farid sebagai ketua tim.

Suasana hangat, fokus, profesional.

Sampai semua mata tertuju pada Anik.

“Aku dengar semalam ada yang plus, ya?” katanya pelan, dengan raut yang tidak perlu banyak kata.

“Iya, Mbak,” jawab Puri. “Pasien sepsis dengan ARDS berat dan AKI. Sudah dilakukan resusitasi, semua obat suportif maksimal, tapi tidak respons.”

Anik mengangguk perlahan. Tidak ada nada menyalahkan. Hanya memastikan. Farid menambahkan, suaranya datar namun bermakna, “Semua sudah dilakukan. Resusitasi medis dan… resusitasi spiritual?”

Puri sempat terdiam sejenak. Pertanyaan itu bukan tentang protokol, tetapi tentang makna.

“Sudah, Bang,” jawabnya akhirnya. “Sempat aku bisikan kalimat… La ilaha illallah.”
Suara Puri sedikit melembut. Sejenak wajah ayahnya terlintas di pikirannya, rapuh, renta, manusiawi.

Farid mengangguk. “Itu bagian dari SPO kita juga. Menjaga keselamatan pasien… bahkan untuk kehidupan berikutnya.”

Kalimat itu menggantung sebentar. Bukan sebagai doktrin, melainkan sebagai pengingat bahwa ICU bukan hanya ruang fisiologi dan farmakologi. Ia juga ruang nilai.

“Oh ya, saya ingin mengingatkan untuk kita semua,” Rois tiba-tiba bersuara.

Semua menoleh.

Apa yang dijelaskan oleh Bang Rois tentang adanya fase sakaratul maut sebelum kematian didengarkan dengan saksama. Disampaikan bahwa pada fase tersebut, rasa sakit yang tidak ringan dapat menyertai proses perpisahan ruh dari jasad. Diingatkan pula bahwa dalam sebuah riwayat dari Aisyah binti Abu Bakar RA telah diceritakan, ketika Rasulullah SAW menghadapi ajalnya, di hadapan beliau diletakkan bejana berisi air. Kedua tangan beliau dimasukkan ke dalam air, lalu wajah beliau diusap seraya diucapkan, “La ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu memiliki sakarat (rasa sakit yang dahsyat).” Melalui penjelasan itu, dipahami bahwa rasa sakit menjelang wafat adalah sesuatu yang nyata, bahkan telah dialami oleh manusia paling mulia.

Tiba-tiba sebuah pengalaman dibagikan oleh Didik. Diceritakan bahwa ketika merawat pasien perforasi gaster yang terpasang ventilator, dalam kondisi sedasi dan paralisis, pada saat menjelang kematian—ketika ia berada di sisi tempat tidur—tangan pasien sempat terangkat ke atas. Peristiwa itu dimaknai sebagai kemungkinan respons terakhir. Pernah pula didengar ungkapan bahwa sakaratul maut diibaratkan seperti ditebas seribu pedang.

Ucapan itu kemudian ditanggapi oleh Farid. Diingatkan bahwa kehidupan tidaklah kekal, sehingga kesombongan tidaklah pantas dipelihara. Disampaikan pula firman Allah dalam QS Qaf ayat 19, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” Melalui ayat itu ditegaskan bahwa kematian adalah kepastian yang tak dapat dielakkan, hanya waktunya yang dirahasiakan.

Udjo yang kebetulan jaga pagi, dengan nada setengah bercanda bertanya, “Bang, nyawa sebenarnya di mana sih…?” Ia tersenyum, meski di balik itu ada rasa ingin tahu yang sungguh.

Secara fisiologi, pikirnya, otak bisa dioperasi, jantung bisa dibedah, hati dan paru dapat diangkat atau diganti, namun selama fungsi vital masih berjalan, kehidupan tetap ada. Pertanyaan itu membuatnya penasaran: jika organ dapat disentuh dan diperbaiki, di manakah sebenarnya ruh bersemayam?

Rois menatapnya serius. “Hati-hati dengan pertanyaan itu, Bro… otakmu belum tentu sampai. Bisa bikin bingung iman kalau tidak siap.” Nada suaranya tegas, bukan untuk mematahkan, tetapi untuk mengingatkan batas.

Ia lalu melanjutkan dengan firman Allah, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Rabb-ku…” (QS Al-Isra: 85). Manusia memiliki batas. Ilmu berhenti pada fisiologi, pada sel, jaringan, organ, dan sistem. Agama berbicara tentang sesuatu yang melampaui batas yang bisa diukur monitor atau ditampilkan di layar USG.

Anik menyela, merasa diskusi itu sudah cukup dalam untuk pagi yang masih menyisakan lelah. “Kita kuat karena kita tim. Tapi jangan lupa jaga diri. Jangan pendam sendiri kalau ada yang terasa berat. Kita boleh profesional, tapi tetap manusia.”

Kalimat itu menutup percakapan dengan hangat.

“Kompak semua! Tetap Saving, Caring, Smiling!”

“Siap… bismillah,” jawab mereka hampir bersamaan.

Pagi itu, laporan jaga tidak sekadar memindahkan data klinis dari satu shift ke shift berikutnya. Beban ikut dibagi, makna ikut diteguhkan, iman ikut dikuatkan. Alasan untuk tetap berdiri di ruang yang tidak pernah benar-benar tidur kembali diperjelas.

Di ICU, kematian memang datang sesekali. Namun yang lebih sering hadir adalah komitmen—untuk tetap peduli, tetap ilmiah, dan tetap manusiawi.

By goens’GN

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEDOMAN ANESTESI DAN PEDIATRIK

PEDOMAN ANESTESI DAN PEDIATRIK 1.     Pendahuluan Penatalaksanaan anestesi pada kelompok pediatri mempunyai aspek psikologi, anatomi, farmakologi, fisiologi dan patologi yang berbeda dengan orang dewasa. Pemahaman atas perbedaan ini merupakan dasar penatalaksanaan anestesi pediatri yang efektif dan aman. Pendekatan psikologis merupakan faktor penting yang berdampak pada luaran anestesi pediatri. Sesuai perkembangannya, kelompok pediatri dibagi dalam kelompok usia neonatus yang lahir kurang bulan dan cukup bulan, bayi usia diatas 1 bulan sampai usia dibawah 1 tahun, anak usia prasekolah usia diatas 1 tahun sampai usia 5 tahun, anak usia sekolah usia 6 tahun sampai 12 tahun dan usia remaja 13 tahun sampai 18 tahun. Neonatus merupakan kelompok yang mempunyai risiko paling tinggi jika dilakukan pembedahan dan anestesi. Patologi yang memerlukan pembedahan berbeda tergantung kelompok usia, neonatus dan bayi memerlukan pembedahan untuk kelainan bawaan sedangkan remaja m...

INFO KOS DI AJIBARANG

  KOS-KOSAN DI AJIBARANG Ingin mendapatkan tempat kos yang menyenangkan ?, Indi’s Kos menyediakan sebuah tempat hunian kos yang menyenangkan, dengan type kamar : Kamar mandi dalam, AC, lemari, spring bed 140 x 200, sprei, bantal dan guling, sebanyak 2 kamar Kamar mandi luar (dalam rumah 2 buah) : springbed 120 x 200, sprei, bantal guling, sebanyak 5 kamar Kamar : bersih Lokasi :  jalan Pramuka no 30, Ajibarang Kulon, Belakang kecamatan Ajibarang. Strategis : Tenang, dekat keramaian dan makanan, tempat parkir luas Bila memerlukan informasi bisa hubungi : Bapak Warsoon : 085292364268 Ruang santai, ruang bersama Kamar Mandi dalam Kamar Kamar Mandi Luar kamar /dalam rumah Kamar Mandi dalam Kamar Kamar Bukan Ber AC Kamar Ber AC

Mengapa Aku Menjadi Seorang Dokter Anestesi

MENGAPA AKU MENJADI SEORANG DOKTER ANESTESI (Sebuah Titik Balik Kehidupan) Sekarang walaupun belum dapat kuraih semuanya, tetapi aku mulai bisa tersenyum mengenang akan masa laluku. Kini aku telah menjadi seorang dokter dan telah mendapatkan spesialisasi dalam jenjang pendidikan di bidang anestesiologi alias pendalaman dalam ilmu pembiusan dan penanganan pasien kegawatdaruratan di ruang intensif (ICU). Memang sih, masih banyak yang belum bisa aku raih tetapi setidaknya kini aku dapat tersenyum dengan kehidupanku sekarang. Aku terlahir disebuah desa kecil dengan kultur budaya pendidikan yang   tidak   menunjang, jangankan bermimpi untuk menjadi seorang dokter, untuk sekolah sampai jenjang menengah pertama dan atas saja masih menjadi barang yang langka. Untung aku terlahir mempunyai seorang bapak yang memang berorientasi pada pendidikan, walaupun susah dari sisi ekonomi untuk menjalaninya. Bapakku merupakan seorang pendidik yang berhenti entah mengapa, karena jaman at...