Langsung ke konten utama

“Saving Caring Smilling di Tengah Ramadhan, Adrenalin, dan Doa yang Tak Terucap”

 Sebuah Cerpen

Cerpen

Saving Caring Smilling di Tengah Ramadhan, Adrenalin, dan Doa yang Tak Terucap”

Di dinding pantry ICU itu tertulis tiga kata besar dengan huruf hijau, ditulis miring seolah menjadi penegas sekaligus pengingat bagi jiwa-jiwa penggerak di ruang kritis itu: Saving, Caring, Smiling.

Tiga kata sederhana. Namun bagi mereka yang bekerja di ruang dengan alarm yang tak pernah benar-benar tidur, itu bukan sekadar slogan dinding. Itu adalah janji. Janji profesional. Janji kemanusiaan. Janji kepada Tuhan.

Pagi itu, ruang ICU masih menyisakan aroma desinfektan yang bercampur samar dengan aroma pendingin ruang. Monitor berbunyi ritmis di kejauhan—irama yang hanya dipahami oleh mereka yang terbiasa hidup di antara garis EKG dan angka saturasi.

Di pantry yang anggun itu, tampak deretan Chromebook berjajar rapisiap mencatat angka-angka vital, menuliskan perjalanan rapuh tubuh manusia, dan menyimpan janji-janji yang dititipkan pada sains dan doa. Tempat itu kadang menjadi ruang jeda paling manusiawisekadar bercengkerama, berbagi lelah, atau menenangkan hatidi antara mesin-mesin penopang hidup yang tak pernah berhenti bekerja.

Empat orang duduk melingkar.

Anik, kepala ruang ICU, berdiri bersandar di meja. Wibawanya tenang, suaranya terukur, seperti monitor yang stabil dalam irama sinus normal. Di sampingnya, Udjoperawat pelaksana yang selalu cepat bergerak ketika alarm berbunyiduduk sambil memegang cangkir, hangatnya tak lagi terasa di telapak tangannya.

Farid, kepala tim yang tahun ini dipercaya menjadi ketua panitia Paket Ramadhan rumah sakit, menyimak dengan mata yang dalammata yang terbiasa melihat bukan hanya kondisi klinis, tetapi juga makna.

Tya, pelaksana muda yang trengginas, yang kadang perasaannya melangkah lebih dulu sebelum logikanya menyusul, menatap lantai dengan sorot yang masih berat.

Mereka sedang melakukan sesuatu yang jarang disadari orang luarflashback dan refleksi pasien kemarin.

“Stroke hemoragik… meninggal,” ucap Tya pelan. “Kasihan sekali.”

Kata meninggal seperti memicu sunyi yang tiba-tiba turun tanpa aba-aba. Semua teringat pasien bed 10 kemarin. Wajahnya. Tekanan darahnya yang tinggi. CT-scan dengan gambaran perdarahan luas.

Hening sejenak.

Suara ventilator dari ruang sebelah terdengar seperti mengisi kekosongan, mendesah teratur dalam tekanan positif yang setia.

Udjo mengangkat wajahnya. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahanseperti irama orkestra klasik yang lirih dan berat.

“Mengapa sih stroke hemoragik bisa meninggal?” ucapnya, lebih seperti bertanya pada dirinya sendiri daripada kepada yang lain.

Anik tidak langsung menjawab. Ia menegakkan tubuhnya, seperti sedang merapikan bukan hanya postur, tetapi juga alur pikir yang akan ia bagikan. Suaranya lembut, namun tetap bernuansa ilmiahtenang seperti grafik hemodinamik yang terkontrol.

“Karena terjadi peningkatan tekanan intrakranial. Perdarahan di dalam otak itu seperti ruang sempit yang dipaksa menampung sesuatu yang tak seharusnya ada. Volume bertambah, tekanan meningkat. Akibatnya perfusi otak menurun. Jaringan yang seharusnya hidup, perlahan kekurangan suplai.”

Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi makna.

“Lalu muncul Cushing syndromehipertensi sebagai respons kompensasi, bradikardi, gangguan napas. Itu tanda bahwa batang otak mulai tertekan. Jika berlanjut, terjadi herniasi serebral. Struktur otak terdorong melewati batas anatominya, menekan batang otak, bahkan bisa masuk ke cavum cerebri. Dan di situlah kehidupan sering kali berhenti.”

Kata-kata itu tidak dramatis. Namun justru karena tenang, ia terasa lebih dalam.

Tya menghela napas panjang.

Udjo mengangguk pelan, seperti menyetujui logika yang tak bisa dibantah.

Farid memejamkan mata sejenak, seolah mengamini pahitnya ilmu yang harus mereka kuasai.

“Ya itulah,” Farid akhirnya bersuara, pelan namun tegas. “Kita selaku punggawa ICU memang harus berilmu, trengginas, dan empati. Supaya betul-betul bisa hidup sesuai semboyan kitaSaving, Caring, Smiling.”

Di atas kepala mereka, tulisan hijau miring itu seperti kembali bernyawa.

Saving — menyelamatkan dengan ilmu, keputusan cepat, dan tindakan presisi.
Caring — merawat dengan hati, bukan sekadar menjalankan protokol.
Smiling — menghadirkan ketenangan, bahkan ketika kematian berdiri di ujung ranjang.

“Alhamdulillah…” Udjo tiba-tiba berkata lirih. “Kemarin aku yang menemani saat beliau menuju akhir. Aku sempat membisikkan kalimatullah… Laa ilaaha illallah…”

Suaranya bergetar. Ada rasa syukur, ada pula keharuan.

Alhamdulillah, semoga khusnul khotimah,” Farid menimpali, suaranya seperti doa yang ditegaskan.

Seorang cleaning service yang kebetulan melintas berhenti di depan pantry. Ia ragu sejenak sebelum bertanya, “Maaf, Mas… khusnul khotimah itu apa ya?”

Farid tersenyum hangat. Ia selalu punya cara menjelaskan hal besar dengan bahasa sederhana.

Khusnul khotimah itu akhir yang baik. Saat seseorang wafat dalam keadaan beriman, dalam kesadaran atau setidaknya dalam naungan kalimat tauhid. Kita tak pernah tahu bagaimana penilaian Allah. Tapi kita berharap beliau pergi dengan hati yang masih terikat kepada-Nya.”

Cleaning service itu mengangguk pelan, wajahnya seperti mendapat pemahaman baru, lalu melanjutkan langkahnya menyusuri lorong ICU.

Obrolan itu kini berubah seperti majelis kecil di tengah ruang medis.

Farid, yang tahun ini dipercaya menjadi ketua panitia Ramadhan rumah sakit, menambahkan dengan nada hangat yang menenangkan,

“Kita ini hanya ikhtiar. Kita menjaga tubuh dengan ilmu, prosedur, dan keterampilan. Tapi ruh tetap milik Allah. Karena itu ilmu dan iman harus berjalan bersama. Kalau hanya ilmu, kita bisa keras. Kalau hanya iman tanpa ilmu, kita bisa lalai. ICU mengajarkan kita keseimbangan itu.”

Dan di antara mesin-mesin yang tetap berdengung, empat hati itu kembali diingatkanmereka bukan sekadar tenaga kesehatan. Mereka adalah penjaga batas antara usaha manusia dan takdir Tuhan.

Anik menambahkan pelan namun penuh penekanan, “Kita mempunyai semboyan itu bukan sekadar pajangan. Itu wajib kita syukuri, dan kita jadikan pegangan dalam bekerja. Apalagi yang dilakukan Udjo kemarin itu sangat mulia. Udjo telah menjalankan Saving yang paling utama—menyelamatkan iman pasien.”

Kalimat itu menggantung lembut di udara pantry.

Semua terdiam. Seolah baru menyadari kedalaman makna yang selama ini tertulis di dinding namun belum sepenuhnya diselami. Mereka saling berpandangan, lalu mengangguk pelan. Ada rasa haru yang tidak perlu diumbar dengan kata-kata.

Mereka menikmati hangatnya makna.

Farid melanjutkan dengan suara yang lebih dalam, seperti sedang menyampaikan nasihat yang telah lama ia simpan.

“Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Barang siapa yang akhir perkataannya adalah Laa ilaaha illallah, maka ia akan masuk surga.’ Itu diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud. Dan dalam riwayat Sahih Muslim juga ada perintah untuk mentalkin orang yang menjelang wafat dengan kalimat Laa ilaaha illallah.”

Ia menatap mereka satu per satu.

“Inilah makna Saving di ICU yang sering tidak terlihat. Kita bukan hanya menjaga airway, breathing, circulation. Kita juga menghadirkan kalimat tauhid di detik-detik terakhir kehidupan. Itu penguat iman. Itu peneguh hati.”

Sunyi kembali turun. Namun kali ini sunyi yang penuh cahaya.

Tiba-tiba—

CODE BLUE!!!”

Suara keras dari arah bed 3 memecah suasana seperti kilat membelah langit.

Sebenarnya di ICU tidak ada istilah code blue. Semua sudah dalam status siaga. Namun teriakan Pepha itu adalah alarm tercepat agar bantuan datang tanpa jeda.

Mereka refleks berdiri. Kursi bergeser. Chromebook tertinggal terbuka dengan catatan pasien yang belum sempat disimpan.

Dalam hitungan detik mereka berlari.

Di bed 3, Pepha sedang berkejaran dengan waktu. Tangannya melakukan kompresi dadakuat, ritmis, presisi. Wajahnya fokus, napasnya teratur mengikuti hitungan.

Anik langsung mengambil alih komando.

“Udjo, troli emergency dekatkan!”

“Siap!”

Udjo mendorong troli dengan cepat, membuka laci obat dengan gerakan terlatih.

Farid sudah berada di sisi kepala pasien. Masker bag-valve terpasang. Ia mulai memberikan ventilasi tekanan positif.

“Tiga puluh banding dua,” ucapnya tegas, sinkron dengan kompresi.

Tya berlari ke sisi seberang Pepha. Ia memposisikan diri dengan sigap. Tangan kanannya di atas tangan kiri Pepha, siap mengambil alih tanpa jeda.

“Masukkan adrenalin satu ampul segera!” suara Anik mantap, seperti konduktor orkestra dalam simfoni kehidupan.

“Adrenalin satu ampul, satu miligram, masuk!” teriak Udjo keras, memastikan closed-loop communication dan double check berjalan sempurna.

Jarum masuk. Obat terdorong.

Pepha mengangkat tangannya. Dalam sepersekian detik, Tya melanjutkan kompresi. Tidak ada jeda. Tidak ada ruang kosong. Estafet kehidupan berpindah tangan dengan presisi.

Tekanan dada berlanjut.

Farid menghitung napas.
Anik memantau monitor dengan sorot tajam.
Udjo bersiap pada kemungkinan berikutnya.

Kompresi bergantian antara Pepha, Udjo, dan Tya. Setiap dua menit mereka bertukar posisi, menjaga kualitas tekanan tetap optimal. Anik mengawasi kedalaman kompresi, ritme, saturasi, dan respons monitor dengan serius.

Waktu terasa lebih panjang dari jarum jam.

Sepuluh menit seperti sepuluh bab kehidupan.

“Cek nadi,” perintah Anik.

Semua berhenti.

Pepha meraba arteri karotis dengan ujung-ujung jarinya yang masih hangat oleh kompresi. Beberapa detik terasa seperti satu abad—sunyi yang menekan lebih kuat daripada tekanan dada barusan.

“Ada nadi…”

Kalimat itu sederhana, namun cukup untuk mengubah udara di ruangan.

Sunyi seketika berubah menjadi cahaya.

“Alhamdulillah…” mereka menjawab serempak, hampir tanpa sadar.

Monitor menunjukkan ritme yang kembali teratur. Gelombang yang tadi liar kini berbaris rapi. Detak itu terdengar seperti kemenangan kecil atas keputusasaan—bukan kemenangan atas takdir, melainkan kemenangan atas kelalaian.

Setelah kondisi stabil, mereka kembali pada disiplin. Alat dirapikan. Kabel disusun. Troli emergency didorong kembali ke tempatnya. Bekas-bekas perjuangan dibereskan dengan ketenangan yang terlatih.

Anik melangkah ke ventilator. Dengan tenang ia mengatur setting lanjutan—mode ventilasi disesuaikan, tidal volume protektif diperhitungkan, PEEP diatur untuk menjaga alveoli tetap terbuka, FiO? dititrasi sesuai respons oksigenasi.

Di balik tindakan teknis itu, tersimpan ketenangan seorang pemimpin yang tahu kapan harus tegas, kapan harus diam, dan kapan harus percaya pada timnya.

Udjo menyeka keringat di pelipisnya.
Tya menarik napas panjang, seperti baru saja kembali dari perjalanan jauh.
Farid memandang pasien yang kini kembali bernapas dengan bantuan mesin—dada yang naik turun itu terasa seperti anugerah.

Di ICU, hidup dan mati berdiri begitu dekat.
Sering kali hanya dipisahkan oleh ilmu, refleks, dan doa.

Anik menatap timnya satu per satu.

“Kita mungkin tidak bisa menyelamatkan semua orang,” ucapnya pelan, “tapi kita harus selalu siap memberikan yang terbaik.”

Farid menambahkan, suaranya teduh namun mantap, “Ilmu menjaga tangan kita tetap terampil. Kekompakan menjaga langkah kita tetap sinkron. Dan kedekatan dengan Allah menjaga hati kita tetap utuh.”

Udjo tersenyum tipissenyum yang tidak lebar, namun penuh makna.
Tya 
dan Pepha mengangguk. Matanya kini lebih terang daripada pagi tadi.

Walaupun bulan Ramadhan sedang berjalan dan mereka tengah berpuasa, tak ada satu pun gerakan yang melambat. Tidak ada kompresi yang berkurang kedalamannya. Tidak ada hitungan ventilasi yang kehilangan presisi.

Rasa haus ada. Lelah tentu terasa. Namun semuanya tertutup oleh sesuatu yang lebih besar: panggilan jiwa.

Mereka bekerja bukan sekadar karena jadwal dinas atau tanggung jawab profesi. Mereka bekerja lillah—karena Allah.

Puasa bukan alasan untuk melemah, justru menjadi penjernih niat. Setiap langkah bernilai ibadah. Setiap tetes keringat menjadi saksi keikhlasan. Setiap kompresi dada, setiap pengaturan ventilator, setiap kalimat tauhid yang dibisikkan di detik akhir kehidupansemuanya adalah pengejawantahan penghambaan.

Saving — bukan hanya menyelamatkan nyawa, tetapi menjaga harapan. Harapan untuk kembali, dan harapan agar iman tetap terjaga.

Caring — bukan sekadar merawat tubuh, tetapi mendampingi jiwa hingga akhir. Ikhtiar yang sadar akan batas, lalu disempurnakan dengan tawakal.

Smiling — bukan tertawa dalam ringan, melainkan menghadirkan ketenangan di tengah situasi paling genting.

Ramadhan menjadikan ICU bukan hanya ruang kritis, tetapi ruang ibadah. Di sanalah profesionalitas berpadu dengan keikhlasan. Di sanalah ilmu bertemu pahala.

Ia adalah ruang ilmu, ruang ujian, dan ruang doa.

Dan di antara alarm yang tak pernah benar-benar diam, empat hati itu tahu: mereka tidak pernah bekerja sendirian.

Di atas segala berisiknya ventilator dan monitor, di atas suntikan adrenalin dan tetes keringat yang mengalir di pelipis, ada takdir yang menulis akhir setiap kisah.

Tugas mereka adalah berilmu.
Berempati.
Bersinergi.
Dan tetap bersujud dalam hati.

Karena pada akhirnya, keselamatan adalah milik Allahnamun usaha adalah kehormatan seorang insan.

By goens’GN

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEDOMAN ANESTESI DAN PEDIATRIK

PEDOMAN ANESTESI DAN PEDIATRIK 1.     Pendahuluan Penatalaksanaan anestesi pada kelompok pediatri mempunyai aspek psikologi, anatomi, farmakologi, fisiologi dan patologi yang berbeda dengan orang dewasa. Pemahaman atas perbedaan ini merupakan dasar penatalaksanaan anestesi pediatri yang efektif dan aman. Pendekatan psikologis merupakan faktor penting yang berdampak pada luaran anestesi pediatri. Sesuai perkembangannya, kelompok pediatri dibagi dalam kelompok usia neonatus yang lahir kurang bulan dan cukup bulan, bayi usia diatas 1 bulan sampai usia dibawah 1 tahun, anak usia prasekolah usia diatas 1 tahun sampai usia 5 tahun, anak usia sekolah usia 6 tahun sampai 12 tahun dan usia remaja 13 tahun sampai 18 tahun. Neonatus merupakan kelompok yang mempunyai risiko paling tinggi jika dilakukan pembedahan dan anestesi. Patologi yang memerlukan pembedahan berbeda tergantung kelompok usia, neonatus dan bayi memerlukan pembedahan untuk kelainan bawaan sedangkan remaja m...

INFO KOS DI AJIBARANG

  KOS-KOSAN DI AJIBARANG Ingin mendapatkan tempat kos yang menyenangkan ?, Indi’s Kos menyediakan sebuah tempat hunian kos yang menyenangkan, dengan type kamar : Kamar mandi dalam, AC, lemari, spring bed 140 x 200, sprei, bantal dan guling, sebanyak 2 kamar Kamar mandi luar (dalam rumah 2 buah) : springbed 120 x 200, sprei, bantal guling, sebanyak 5 kamar Kamar : bersih Lokasi :  jalan Pramuka no 30, Ajibarang Kulon, Belakang kecamatan Ajibarang. Strategis : Tenang, dekat keramaian dan makanan, tempat parkir luas Bila memerlukan informasi bisa hubungi : Bapak Warsoon : 085292364268 Ruang santai, ruang bersama Kamar Mandi dalam Kamar Kamar Mandi Luar kamar /dalam rumah Kamar Mandi dalam Kamar Kamar Bukan Ber AC Kamar Ber AC

Mengapa Aku Menjadi Seorang Dokter Anestesi

MENGAPA AKU MENJADI SEORANG DOKTER ANESTESI (Sebuah Titik Balik Kehidupan) Sekarang walaupun belum dapat kuraih semuanya, tetapi aku mulai bisa tersenyum mengenang akan masa laluku. Kini aku telah menjadi seorang dokter dan telah mendapatkan spesialisasi dalam jenjang pendidikan di bidang anestesiologi alias pendalaman dalam ilmu pembiusan dan penanganan pasien kegawatdaruratan di ruang intensif (ICU). Memang sih, masih banyak yang belum bisa aku raih tetapi setidaknya kini aku dapat tersenyum dengan kehidupanku sekarang. Aku terlahir disebuah desa kecil dengan kultur budaya pendidikan yang   tidak   menunjang, jangankan bermimpi untuk menjadi seorang dokter, untuk sekolah sampai jenjang menengah pertama dan atas saja masih menjadi barang yang langka. Untung aku terlahir mempunyai seorang bapak yang memang berorientasi pada pendidikan, walaupun susah dari sisi ekonomi untuk menjalaninya. Bapakku merupakan seorang pendidik yang berhenti entah mengapa, karena jaman at...