AKREDITASI? TELUSUR PMKP
Oleh; Igun Winarno
Pagi itu Rumah Sakit Damar Husada tampak berbeda dari biasanya. Lorong-lorong
rumah sakit terlihat lebih rapi, para staf berjalan lebih sigap, dan hampir
semua SDM tampak mempersiapkan diri dengan serius. Suasananya seperti rumah
sakit sedang memiliki hajatan besar. Setelah ditelusuri, ternyata hari itu
adalah pelaksanaan bimbingan survei
akreditasi rumah sakit.
Akreditasi menjadi sesuatu yang
penting bagi rumah sakit, karena menjadi salah satu tolok ukur apakah pelayanan
rumah sakit benar-benar berkualitas, mengutamakan mutu, dan mampu menjaga
keselamatan pasien atau tidak. Semua unit tampak sibuk dengan tugas
masing-masing, termasuk Pokja PMKP yang sejak pagi sudah terlihat mondar-mandir
mempersiapkan berbagai dokumen dan data.
Di sudut ruang rapat, Uun tampak
gelisah. Wajahnya terlihat tegang sambil membuka beberapa map dokumen di
hadapannya.
“Kenapa, Mbak? Kok kelihatannya
cemas sekali?” tanya Ndari, temannya, dengan nada santai.
“Gimana nggak cemas? Hari ini fokus
telusurnya Pokja PMKP,” jawab Uun pelan sambil menarik napas panjang.
“Oh… ya sudah ya…” jawab Ndari
ringan sambil berlalu begitu saja tanpa merasa bersalah, membuat Uun hanya bisa
menggeleng kecil.
Tidak lama kemudian, Uun sudah
duduk bersama tim Pokja PMKP di sebuah meja setengah lingkaran. Di depan mereka
duduk seorang surveyor akreditasi dengan wajah tenang namun penuh wibawa.
“Selamat pagi semuanya.
Perkenalkan, saya Winarno, surveyor akreditasi hari ini,” ucapnya sambil
memandang satu per satu anggota tim PMKP.
Suasana sempat hening beberapa
detik sebelum akhirnya proses perkenalan dimulai.
“Kita santai saja ya. Ini bukan
tempat mencari kesalahan, tetapi proses pembimbingan agar rumah sakit memahami
mutu dan keselamatan pasien dengan lebih baik. Jadi jangan terlalu tegang,”
lanjutnya sambil tersenyum.
Beberapa anggota tim mulai tampak
sedikit rileks.
“Kalian tahu tidak apa sebenarnya
yang dimaksud dengan program PMKP?”
Ruangan kembali hening. Semua
menunggu beliau melanjutkan penjelasannya, karena pertanyaan itu terdengar
seperti pertanyaan retoris.
“PMKP adalah Program Peningkatan
Mutu dan Keselamatan Pasien. Artinya, mutu pelayanan rumah sakit harus terus
meningkat dari waktu ke waktu, dan keselamatan pasien harus menjadi prioritas
utama,” jelasnya.
Beliau kemudian melanjutkan bahwa
jika berbicara tentang peningkatan mutu dan keselamatan pasien, maka rumah
sakit harus memiliki program yang jelas, sistem yang berjalan, dan tim yang
mengelolanya.
“Yang pertama tentu harus ada
Komite Mutu atau Tim PMKP yang ditetapkan langsung oleh Direktur rumah sakit,”
ujarnya sambil membuka dokumen di hadapannya.
Beliau mulai menjelaskan satu per
satu komponen penting dalam PMKP.
“Harus ada SK Tim Komite Mutu.
Anggotanya harus sesuai kompetensi dan di dalam SK harus tercantum jelas tugas pokok serta fungsinya. Tidak
boleh hanya nama tanpa pekerjaan yang jelas.”
Semua mulai mencatat.
“Kemudian harus ada Pedoman Komite
Mutu. Di dalamnya dijelaskan struktur tim, tupoksi, program kerja, sistem
laporan bulanan, triwulan, semester, sampai tahunan. Bagaimana data
dikumpulkan, dianalisis, dievaluasi, hingga bagaimana publikasi mutu
dilakukan.”
Beliau berhenti sejenak, lalu
melanjutkan.
“Program kerja juga harus jelas.
Ada indikator mutu nasional, indikator mutu prioritas rumah sakit, dan
indikator mutu unit. Semua unit harus punya indikator dan sesuai SK Direktur,
unit apa saja di rumah sakit itu.”
“Kalau indikator sudah tercapai
100% berturut-turut bagaimana? Kalau tidak tercapai bagaimana? Itu harus ada
analisis dan perlakuannya,” tambah beliau.
“Perlu diingat pula bahwa setiap proses analisis dan pertemuan, harus
disertai dengan dokumen undangan, daftar hadir dan notulensi, kalau analisis
uji perubahan tentaunya harus ada data sebelumnya, membaik tidak, bermakna
tidak perubahan yang telah dilakukan”
Uun mulai terlihat sedikit tenang
karena ternyata sebagian besar yang dijelaskan memang sudah mereka kerjakan.
Surveyor itu lalu masuk pada bagian
keselamatan pasien.
“PMKP tidak bisa dipisahkan dari
keselamatan pasien. Harus ada laporan insiden keselamatan pasien, analisisnya,
tindak lanjutnya, apakah insiden menurun atau meningkat. Rumah sakit juga harus
membangun budaya keselamatan pasien.”
Beliau menatap semua anggota tim
dengan serius.
“Budaya keselamatan itu bukan
sekadar slogan di dinding. Tetapi apakah staf berani melapor, apakah ada
pembelajaran, apakah ada perbaikan.”
“Perlu diingat ya teman-teman,”
ujar Dokter Winarno sambil tersenyum tenang, “budaya mutu dan keselamatan
pasien itu sering kali terlihat dari banyak sedikitnya laporan insiden
keselamatan pasien yang masuk.”
Ninuk yang
sejak tadi memperhatikan langsung mengangkat tangan kecilnya. “Kalau laporannya
banyak berarti rumah sakitnya jelek ya, Dok?” tanyanya polos.
Dokter Winarno tersenyum kecil
mendengar pertanyaan itu.
“Bisa iya, bisa juga tidak,”
jawabnya santai. “Tetapi yang paling penting adalah SDM di rumah sakit itu
punya kepedulian dan keberanian untuk melapor, ini budaya yang bagus. Rumah sakit yang tidak pernah ada laporan belum
tentu aman. Bisa jadi stafnya takut melapor, budaya keselamatannya belum
terbentuk, atau masalahnya justru disembunyikan.”
Semua mulai memperhatikan lebih
serius.
“Surveyor biasanya tidak hanya
melihat jumlah insiden,” lanjut beliau, “tetapi apakah laporan yang masuk
dilakukan analisis atau tidak, ada tindak lanjut perbaikannya atau tidak, dan
apakah setelah itu terjadi perubahan. Nah, itu yang paling penting.”
“Berarti analisis di PMKP itu
penting sekali ya, Dok?” tanya Afni penasaran.
“Betul sekali,” jawab Dokter
Winarno mantap. “Analisis itu induknya. Dari analisis kita bisa memahami akar
masalah sebenarnya. Kalau tidak dianalisis, rumah sakit tidak akan tahu apa
yang harus diperbaiki.”
Beliau lalu melanjutkan dengan nada
lebih dalam.
“Karena itu dalam PMKP harus ada
pelatihan analisis dan validasi data. Rumah sakit harus belajar membaca data,
memahami pola masalah, melakukan RCA, melihat tren, dan menentukan langkah
perbaikan yang tepat.”
Semua tersenyum kecil, seolah
sedang menertawakan diri mereka sendiri yang selama ini sering sibuk
mengumpulkan laporan tanpa benar-benar memahami maknanya. Namun kini suasana
ruangan berubah menjadi semakin fokus. Mereka mulai memahami bahwa PMKP bukan
sekadar dokumen dan angka-angka laporan, tetapi tentang bagaimana rumah sakit
belajar dari setiap kesalahan demi keselamatan pasien.
“Kemudian ada manajemen risiko. Rumah sakit
harus punya risk register. Unit-unit juga harus punya risk register
masing-masing. Harus ada FMEA, RCA, ICRA, laporan semester, laporan tahunan,
analisis lengkap, dan rekomendasi, ini juga
akan terkait dengan anggaran, surveyor biasanya akan mencocokkan dengan
anggaran rumah sakit terkait resiko.”
Beberapa anggota tim mulai membuka
kembali dokumen mereka, memastikan semuanya tersedia.
“Lalu jangan lupa proses edukasi
dan pembelajaran. Semua kegiatan harus terdokumentasi. Ada koordinasi dengan
diklat, ada KAK, absensi, pre-test, post-test, dan laporan kegiatan.”
Beliau tersenyum kecil sebelum
melanjutkan.
“Yang paling penting sebenarnya
bukan dokumennya. Tetapi apakah program mutu itu benar-benar dikerjakan.”
Ruangan kembali hening.
“Jelas, yang pertama apa ada programnya?, Apakah ada hasilnya? Ada
analisisnya? Ada uji perubahannya? Apakah
ada bukti tindak lanjut? Ada evaluasinya? Apakah masyarakat tahu rumah sakit
ini sedang berupaya meningkatkan mutu?”
Beliau menunjuk papan media
informasi di sudut ruangan.
“Mutu itu harus hidup. Bisa melalui
story board, website, media sosial, atau media edukasi lainnya. Tetapi sebelum
dipublikasikan harus ada validasi data.”
Terakhir beliau menutup
penjelasannya dengan satu kalimat yang membuat semua orang terdiam.
“Mutu pelayanan rumah sakit tidak
pernah lebih baik dari sistem yang dimiliki rumah sakit itu sendiri. Kalau
sistemnya kuat, terstandar, diawasi, dan berorientasi pada keselamatan pasien,
maka pelayanan yang dihasilkan juga akan baik.”
Uun perlahan tersenyum.
Ketegangannya mulai berkurang. Hari itu ia mulai memahami bahwa akreditasi
bukan hanya tentang penilaian, melainkan tentang bagaimana rumah sakit terus
belajar memperbaiki diri demi keselamatan setiap pasien yang datang.
Semua terdiam mendengarkan dan
merenungkan dirinya masing-masing. Ruangan yang sejak tadi dipenuhi ketegangan
kini berubah menjadi lebih hening dan penuh perhatian.
“Kalian tahu tidak, mengapa PMKP itu harus ada di rumah sakit?” Dokter
Winarno kembali melanjutkan penjelasannya.
Beliau kemudian menjabarkan bahwa
rumah sakit merupakan tempat dengan risiko yang sangat tinggi terhadap berbagai
kejadian yang dapat membahayakan pasien. Risiko itu bisa berupa salah
identifikasi pasien, salah pemberian obat, pasien jatuh, infeksi nosokomial, Ventilator-Associated Pneumonia (VAP), medication error, keterlambatan operasi,
keterlambatan dan atau salah transfusi
darah, kegagalan komunikasi saat handover, near
miss di ICU maupun kamar operasi, dan berbagai risiko lainnya yang setiap
hari bisa terjadi di lingkungan pelayanan kesehatan.
“Tanpa sistem mutu yang baik,”
lanjut beliau perlahan, “kesalahan akan terus berulang, tidak ada pembelajaran,
tidak ada evaluasi, dan pada akhirnya pasien yang dirugikan.”
Karena itulah PMKP dibentuk.
Tujuannya bukan sekadar memenuhi dokumen akreditasi, tetapi untuk menurunkan
risiko cedera pasien, membuat pelayanan lebih aman, meningkatkan efektivitas
dan efisiensi pelayanan, membangun budaya keselamatan pasien, membuat keputusan
berbasis data, menstandarkan pelayanan, serta menjadi dasar perbaikan
berkelanjutan atau continuous quality improvement.
Beliau menegaskan bahwa standar
PMKP membantu seluruh Profesional Pemberi Asuhan memahami bagaimana melakukan
perbaikan pelayanan yang aman sekaligus menurunkan risiko yang dapat terjadi
pada pasien.
“Di dalam PMKP sebenarnya ada
filosofi yang sangat dalam,” ujar beliau sambil menatap seluruh anggota tim.
“Every system is perfectly designed to get the results it gets.”
Beliau kemudian menjelaskan
maknanya dengan sederhana.
“Kalau sebuah rumah sakit sering
terjadi medication error, angka
pasien jatuh tinggi, VAP meningkat, hand hygiene rendah, antrean IGD kacau,
atau komplain pasien terus bertambah, maka itu bukan kebetulan. Artinya, sistem
yang ada memang sedang menghasilkan kondisi seperti itu.”
Ruangan kembali sunyi.
“Jadi yang perlu dilihat bukan
hanya manusianya, tetapi sistemnya.”
Beliau mulai menjelaskan satu per
satu.
“Mungkin SOP-nya buruk,
komunikasinya lemah, monitoring tidak berjalan, budaya keselamatan rendah, staf
kurang dilatih, supervisi kurang, alur kerja salah, atau bahkan pimpinan belum
memberikan dukungan yang cukup.”
Beliau tersenyum kecil sebelum
melanjutkan.
“Karena itu dalam PMKP kita tidak
hanya memperbaiki manusianya, tetapi juga memperbaiki sistemnya. Sebab manusia
bisa lupa, lelah, salah komunikasi, bahkan bekerja dalam tekanan tinggi.”
“Sistem yang baik dibuat untuk
mencegah kesalahan, mendeteksi kesalahan, dan meminimalkan dampak kesalahan.”
Semua mulai mengangguk perlahan.
Dalam dunia pelayanan rumah sakit,
hasil buruk yang terus berulang sebenarnya jarang terjadi hanya karena nasib
buruk semata. Ketika insiden keselamatan pasien, keterlambatan pelayanan, medication error, infeksi rumah sakit,
atau komplain pasien terus muncul dari waktu ke waktu, maka yang harus dilihat
bukan hanya siapa yang salah, tetapi bagaimana sistem kerja di rumah sakit
tersebut berjalan.
Sebab pada hakikatnya, setiap
sistem akan menghasilkan keluaran sesuai dengan cara sistem itu dirancang dan
dijalankan. Jika budaya mutu dan keselamatan pasien belum terbentuk, sistem
kerja longgar, tidak terstandar, minim pengawasan, dan lemah dalam budaya
keselamatan, maka hasil yang muncul pun akan penuh risiko dan masalah yang
berulang.
Karena itu, ketika rumah sakit
ingin mendapatkan hasil pelayanan yang berbeda dan lebih baik, maka yang harus
diperbaiki bukan hanya individunya, tetapi sistemnya. Perubahan tidak cukup
dilakukan dengan menegur staf atau menyalahkan petugas di lapangan, melainkan
dengan membangun proses kerja yang aman, jelas, konsisten, dan terukur. Inilah
yang disebut budaya mutu dan keselamatan pasien.
Rumah sakit harus memastikan adanya
standar prosedur operasional (SPO) yang dipahami dan dijalankan, memastikan
staf mendapatkan pelatihan yang memadai, melakukan monitoring dan audit secara
rutin, menjalankan Root Cause Analysis
(RCA) terhadap setiap insiden, memberikan umpan balik perbaikan, serta
membangun budaya pelaporan tanpa rasa takut untuk disalahkan. Semua itu menjadi
fondasi penting dalam membangun budaya mutu dan keselamatan pasien.
“Inilah yang menjadi dasar mengapa
akreditasi rumah sakit tidak hanya berfokus mencari siapa yang salah,” lanjut
Dokter Winarno, “tetapi lebih jauh melihat apakah sistem rumah sakit telah
dirancang dengan aman.”
Beliau menunjuk beberapa dokumen yang
ada di meja.
“Bukti bukan hanya dokumen.
Surveyor akan melihat apakah sistem benar-benar berjalan. Dokumen hanyalah
gambaran bahwa proses itu sudah dilakukan atau belum.”
Akreditasi ingin memastikan bahwa
pelayanan rumah sakit berjalan berdasarkan standar, data, evaluasi, dan
perbaikan berkelanjutan. Sebab sesungguhnya hasil pelayanan rumah sakit
merupakan cerminan langsung dari kualitas sistem yang dimilikinya. Rumah sakit
dengan sistem yang kuat, terstandar, diawasi dengan baik, dan berorientasi pada
keselamatan pasien akan lebih mampu menghasilkan pelayanan yang aman, efektif,
efisien, dan bermutu tinggi.
“Karena itu,” ujar beliau sambil
tersenyum, “kualitas pelayanan rumah sakit tidak pernah lebih baik dari
kualitas sistem yang dibangun di dalamnya.”
Beliau kemudian menatap seluruh
anggota tim PMKP.
“Inilah yang akan ditanyakan oleh
surveyor dalam telusur PMKP nanti.”
Dokter Winarno tersenyum puas
melihat wajah Uun dan teman-temannya yang kini tampak jauh lebih tenang dan
antusias dibanding sebelumnya.
“Oke, sekarang kita bisa langsung
masuk ke standar-standar dalam PMKP.”
“Siap, Dokter!” jawab mereka hampir
bersamaan.
Kini mereka mulai memahami bahwa
PMKP bukan sekadar tuntutan akreditasi, tetapi pilar utama rumah sakit dalam
menjaga mutu pelayanan dan keselamatan setiap pasien yang datang.
By Igun Winarno
Lanjut bagian dua, Standar dalam PMKP -->

Komentar