dr. Igun Winarno, Sp.An-TI, FISQua
Pembeda
Kisah Nabi Muhammad ï·º di Pasar Busra bukan hanya pelajaran
tentang perdagangan. Kisah itu adalah pelajaran besar tentang pelayanan
prima (service excellence) yang
sangat relevan diterapkan di rumah sakit saat ini.
Di Pasar Busra, Nabi Muhammad ï·º tidak berfokus menjual barang
sebanyak-banyaknya. Beliau lebih memilih memahami kebutuhan pelanggan,
memberikan solusi terbaik, dan membangun kepercayaan.
Rumah sakit sejatinya juga demikian.
Pasien yang datang bukan sekadar "pengguna layanan". Mereka adalah manusia yang sedang sakit,
cemas, takut, dan membutuhkan pertolongan. Mereka tidak hanya membutuhkan obat,
tindakan medis, atau pemeriksaan laboratorium. Mereka membutuhkan rasa aman,
penghargaan, dan keyakinan bahwa rumah sakit berada di pihak mereka.
Sebagaimana Nabi Muhammad ï·º bertanya kepada pembeli:
"Apa yang Tuan cari?"
Maka setiap petugas rumah sakit seharusnya juga bertanya
dalam hati:
"Apa yang sebenarnya dibutuhkan pasien ini?"
Senyum, Salam, Salaman: Awal
Membangun Trust Pasien
Dalam kisah tersebut, Nabi Muhammad
ï·º selalu memulai interaksi dengan kesopanan, penghormatan, dan akhlak yang
mulia. Beliau memahami bahwa hubungan yang baik selalu diawali dengan cara
menyambut dan memperlakukan orang lain dengan penuh penghargaan.
Di lingkungan rumah sakit, bentuk
penghormatan yang paling sederhana namun sangat bermakna adalah budaya 3S:
Senyum, Salam, dan Salaman.
Sebagian orang mungkin menganggap
3S hanyalah formalitas atau rutinitas pelayanan. Padahal sesungguhnya, 3S
adalah investasi kepercayaan (trust)
yang nilainya sangat besar. Ketika pasien datang dan disambut dengan senyum
yang tulus, salam yang hangat, serta salaman yang sopan dan penuh penghormatan,
maka yang terbangun bukan hanya komunikasi, tetapi juga hubungan emosional
antara pasien dan tenaga kesehatan.
Pada saat itulah pasien mulai
merasakan:
- Saya diterima.
- Saya dihargai.
- Saya tidak sendirian menghadapi penyakit ini.
- Rumah sakit ini peduli kepada saya.
Perasaan-perasaan sederhana
tersebut sering kali menjadi awal munculnya rasa nyaman, rasa aman, dan
keyakinan untuk menjalani proses pengobatan. Bahkan tidak jarang, kepercayaan
pasien kepada tenaga kesehatan menjadi salah satu faktor yang memperkuat semangat
mereka untuk sembuh.
Pasien mungkin suatu saat melupakan
nama obat yang diberikan, tetapi mereka hampir tidak pernah melupakan bagaimana
mereka diperlakukan. Mereka akan selalu mengingat wajah yang ramah, sapaan yang
hangat, dan perhatian yang tulus ketika sedang berada dalam kondisi lemah dan
membutuhkan pertolongan.
Karena itu, 3S bukan sekadar budaya
kerja atau standar pelayanan. 3S adalah pintu masuk menuju kepercayaan pasien.
Ketika kepercayaan telah tumbuh,
komunikasi menjadi lebih mudah, kerja sama dalam pengobatan menjadi lebih baik,
kepatuhan terhadap terapi meningkat, dan proses pelayanan berjalan lebih
harmonis. Pada akhirnya, kondisi tersebut akan menopang proses penyembuhan
pasien secara keseluruhan.
Lebih dari itu, pelayanan yang
diberikan dengan ketulusan akan melahirkan rasa syukur dari pasien dan
keluarganya. Dari rasa syukur itu sering kali lahir doa-doa kebaikan yang
dipanjatkan kepada Allah SWT. Bisa jadi doa-doa tersebut menjadi salah satu
sebab datangnya keberkahan dalam pekerjaan kita, kemudahan dalam kehidupan
kita, serta pahala yang terus mengalir bagi diri kita dan orang-orang yang kita
layani.
Senyum yang tulus mungkin hanya
berlangsung beberapa detik, tetapi dampaknya dapat tinggal lama di hati pasien.
Maka jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah senyum, salam, dan salaman. Sebab
dari situlah kepercayaan dibangun, pelayanan dimuliakan, dan kemanusiaan
ditegakkan.
Jangan Sekadar Memberi Layanan,
Berikan Solusi
Di Pasar Busra, Nabi Muhammad ï·º tidak memaksakan barang yang
paling mahal. Beliau justru merekomendasikan produk yang paling sesuai
kebutuhan pembeli.
Inilah prinsip patient-centered
care.
Dalam pelayanan rumah sakit, tenaga kesehatan tidak boleh
hanya berorientasi pada prosedur atau target pekerjaan.
Yang lebih penting adalah:
- Apa
yang terbaik untuk pasien?
- Apa
yang paling aman?
- Apa
yang paling nyaman?
- Apa
yang paling sesuai dengan kebutuhan pasien?
Pasien akan merasakan perbedaan antara petugas yang sekadar
menjalankan tugas dengan petugas yang benar-benar ingin membantu.
Ketika pasien merasakan ketulusan itu, maka kepercayaan akan
tumbuh secara alami.
Integritas Menciptakan Loyalitas
Nabi Muhammad ï·º memilih keuntungan jangka panjang dibanding
keuntungan sesaat. Beliau berkata:
"Kalau dia senang, Tuan akan kembali lagi ke sini tahun
depan. Itu keuntungan yang lebih besar buat saya."
Dalam dunia rumah sakit, prinsip ini juga berlaku. Rumah sakit tidak dibangun oleh iklan
besar-besaran. Rumah sakit
dibangun oleh cerita yang dibawa pulang pasien. Ketika pasien berkata:
"Dokternya baik."
"Perawatnya ramah."
"Petugasnya membantu."
"Saya merasa dihargai."
“Lingkungannya bersih”
Maka sebenarnya rumah sakit sedang memperoleh promosi terbaik
yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kepercayaan masyarakat dibangun dari ribuan interaksi kecil
yang dilakukan setiap hari.
Kompetensi dan Keramahan Harus
Berjalan Bersama
Dalam kisah tersebut, Maisarah kagum bukan hanya karena
kejujuran Nabi Muhammad ï·º, tetapi juga karena kecerdasan dan kompetensi beliau.
Demikian pula di rumah sakit. Keramahan tanpa kompetensi tidak
cukup. Sebaliknya,
kompetensi tanpa keramahan juga tidak lengkap. “Pasien membutuhkan keduanya”
Kompetensi profesional
- Diagnosis
yang tepat.
- Tindakan
yang aman.
- Keputusan
yang cepat.
- Pelayanan
yang bermutu.
Kompetensi emosional
- Senyum
yang tulus.
- Salam
yang hangat.
- Salaman dengan body language
yang enak dirasa
- Komunikasi
yang santun.
- Empati
yang nyata.
Ketika keduanya bertemu, maka lahirlah pelayanan yang
berkesan.
Main Long Game dalam Pelayanan
Nabi Muhammad ï·º tidak mengejar keuntungan sesaat. Beliau membangun hubungan jangka
panjang. Rumah sakit juga
harus demikian.
Jangan hanya berpikir bagaimana menyelesaikan pasien hari
ini.
Pikirkan bagaimana membuat pasien percaya untuk kembali
ketika membutuhkan pelayanan, merekomendasikan rumah sakit kepada keluarga, dan
menjadi duta positif bagi rumah sakit.
Kepercayaan masyarakat adalah aset terbesar rumah sakit. Dan kepercayaan itu dibangun dari
hal-hal sederhana:
- Senyum
saat bertemu pasien.
- Salam
saat menyapa.
- Salaman
saat menyambut.
- Mendengarkan
dengan penuh perhatian.
- Memberikan
informasi dengan jujur.
- Membantu
tanpa membeda-bedakan.
Penutup
Kisah Nabi Muhammad ï·º di Pasar Busra mengajarkan bahwa
kesuksesan terbesar tidak diperoleh dengan memaksa, melainkan dengan membangun
kepercayaan.
Di rumah sakit, pasien tidak hanya datang untuk mencari
kesembuhan. Mereka datang untuk mencari harapan, ketenangan, dan rasa aman. Karena itu, marilah kita meneladani
pelayanan Rasulullah ï·º:
Melayani
dengan senyum.
Menyapa dengan salam.
Menyambut dengan salaman.
Memberikan solusi terbaik.
Menjaga integritas.
Membangun kepercayaan.
Sebab pada akhirnya, yang membuat pasien kembali bukan hanya
kecanggihan alat atau kemegahan gedung, melainkan keyakinan bahwa di rumah
sakit ini mereka diperlakukan sebagai manusia yang dihargai dan dimuliakan.
"Pasien mungkin akan lupa siapa nama kita, namun mereka tidak akan pernah lupa bagaimana perasaan yang kita tinggalkan di hati mereka."
RSUD
Ajibarang CERIA:
Cepat, Efisien, Ramah, Ikhlas, dan Aman.
Penulis
dr. Igun Winarno, SpAn-TI.,FISQua
Dokter Spesialis Anestesidan Terapi
Intensive
Motivator, Penulis, Surveior rumah
sakit

Komentar