RULE PASIEN ICU
“Bismillah
— menyatukan persepsi, menajamkan fokus, dan menghadirkan ikhtiar terbaik untuk
menyelamatkan nyawa.”
Pendahuluan
Pelayanan pasien di Intensive Care Unit (ICU) menuntut standar berpikir klinis yang
sistematis, cepat, dan terukur. Pasien datang dalam kondisi kritis, sering kali
dengan kegagalan satu atau lebih organ vital, sehingga setiap menit memiliki
nilai prognostik. Oleh karena itu, seluruh tim—dokter, perawat, farmasi,
nutrisionis, analis laboratorium, dan tenaga pendukung—harus berbicara dalam
bahasa klinis yang sama.
Artikel ini merangkum RULE PASIEN ICU sebagai
pedoman bersama: mulai dari definisi pasien ICU, proses serah terima, penentuan
prioritas terapi awal, hingga evaluasi berkelanjutan berbasis target klinis.
Tujuan
Penyusunan RULE Pasien ICU
1.
Pedoman ini disusun untuk:
2.
Menyamakan pemahaman seluruh tim tentang karakteristik
pasien ICU.
3.
Menguatkan proses handover atau serah terima pasien.
4.
Menetapkan prioritas terapi awal secara sistematis.
5.
Mengoptimalkan kolaborasi antara tim ICU dan DPJP.
6.
Mengawal pencapaian target klinis secara real-time.
Siapa Pasien
ICU?
Pasien ICU adalah pasien dengan:
- Kegagalan
satu atau lebih organ vital.
- Risiko
instabilitas hemodinamik.
- Kebutuhan
monitoring ketat dan kontinu.
- Terapi
suportif intensif.
- Intervensi
cepat dan berulang.
Pelayanan mereka berlandaskan satu prinsip
fundamental: Early
recognition – early intervention – continuous reassessment.
Prinsip Dasar ICU
Early
Recognition — Deteksi Dini
Deteksi dini adalah kemampuan tim ICU mengenali
tanda-tanda perburukan klinis sebelum berkembang menjadi kegagalan organ yang
lebih berat.
Fokus utama meliputi:
- Perubahan
tanda vital (MAP, HR, RR, SpO₂).
- Penurunan
kesadaran.
- Oliguria.
- Asidosis
metabolik dan peningkatan laktat.
- Kebutuhan
ventilator yang meningkat.
- Tanda
infeksi atau sepsis.
- Perdarahan
tersembunyi.
Tujuan:
Mencegah keterlambatan terapi, menekan progresi syok dan gagal organ, serta
memberi waktu untuk intervensi efektif.
Early Intervention — Tindakan
Cepat
Begitu masalah teridentifikasi, intervensi harus dilakukan segera tanpa
menunggu kondisi memburuk.
Contoh intervensi di ICU:
- Resusitasi
cairan.
- Pemberian
vasopresor atau inotropik.
- Antibiotik
spektrum luas pada sepsis.
- Koreksi
hipoksia dan proteksi jalan napas.
- Transfusi
sesuai indikasi.
- Koreksi
elektrolit.
- Kontrol
sumber infeksi.
- Eskalasi
monitoring.
Prinsip tindakan: berbasis
fisiologi, sesuai protokol, kolaboratif dengan DPJP, serta terarah pada target.
Continuous
Reassessment — Penilaian Ulang Berkelanjutan
Pasien ICU bersifat dinamis. Setiap terapi harus dievaluasi terus-menerus
untuk memastikan efektivitas dan mencegah komplikasi.
Yang dinilai secara rutin:
- Pencapaian
target (MAP, urine output, SpO₂, laktat).
- Respons
terhadap cairan dan obat.
- Risiko
overload cairan.
- Adekuasi
ventilasi.
- Kadar
glukosa darah dan elektrolit.
- Fungsi
organ.
Tujuan: menyesuaikan
terapi secara dinamis, mencegah over- atau under-treatment, menjaga keselamatan
pasien, dan memberi umpan balik cepat kepada DPJP.
Early Recognition berarti
kemampuan seluruh tim ICU untuk secara cepat dan tajam mengenali setiap tanda
awal perburukan klinis pasien, baik melalui perubahan tanda vital, status
neurologis, perfusi, maupun parameter laboratorium. Setelah masalah
teridentifikasi, Early Intervention menuntut tindakan segera yang tepat
sasaran, berbasis fisiologi dan protokol, tanpa menunggu kondisi berkembang
menjadi lebih berat. Selanjutnya, Continuous Reassessment menegaskan bahwa
seluruh intervensi tersebut harus terus dievaluasi secara berkelanjutan melalui
pemantauan real-time terhadap pencapaian target hemodinamik, respirasi, fungsi
organ, dan keseimbangan cairan, sehingga terapi dapat disesuaikan secara
dinamis demi keselamatan dan hasil klinis terbaik bagi pasien ICU.
Titik Awal: Serah Terima Pasien
Saat pasien masuk ICU, proses handover menjadi momen kritis.
Identifikasi Masalah Inti
- Diagnosis
kerja dan penyebab masuk ICU.
- Organ
yang gagal.
- Status hemodinamik,
respirasi, dan neurologis.
- Output
urine.
- Kecurigaan
infeksi atau sepsis.
Data Wajib dalam Handover
- Riwayat
penyakit utama.
- Tindakan
dan terapi sebelumnya.
- Jumlah
cairan dan obat yang sudah diberikan.
- Ventilator
atau alat invasif yang terpasang.
- Hasil
laboratorium terakhir.
- Rencana
DPJP, termasuk target klinis.
Peran Tim ICU terhadap DPJP
Tim ICU berfungsi sebagai penjaga garis depan pelayanan intensif:
- Mengidentifikasi
kebutuhan aktual pasien.
- Melakukan
tindakan awal yang krusial.
- Menyampaikan
perubahan kondisi secara cepat.
- Memberi
rekomendasi berbasis fisiologi.
- Mengawal
pencapaian target terapi.
- Mendokumentasikan
progres harian secara terstruktur.
Tujuan akhirnya adalah membantu DPJP mengambil
keputusan tepat waktu dan berbasis data.
Bagian Inti --> RULE Pasien
ICU
Langkah 1 — Kebutuhan Cairan
Kebutuhan cairan dasar (maintenance) pada pasien dewasa stabil
diperkirakan:
- ±2 cc/kg/jam,
atau
- 35–45
cc/kg/24 jam,
yang setara dengan 30 cc/kg/24 jam + IWL 10–15 cc/kg/24 jam.
Apa itu IWL?
Insensible
Water Loss adalah kehilangan cairan yang tidak terukur melalui kulit dan pernapasan.
Angkanya dapat meningkat pada demam, ventilasi mekanik tanpa humidifier
adekuat, luka bakar, takipnea, dan sepsis.
Catatan Penting di ICU
Angka ini bukan resep kaku, melainkan titik
awal. Banyak pasien ICU mengalami syok, gagal ginjal, ARDS, gagal jantung,
overload cairan, atau pasca-resusitasi besar. Oleh karena itu, pemberian cairan
harus berbasis:
- Status
volume intravaskular.
- Parameter
hemodinamik.
- Respons
cairan.
- Balance
cairan.
- Urine
output.
- Laktat.
- Ultrasonografi
bedside bila tersedia.
Rumus tersebut benar secara teori, tetapi tidak
boleh diterapkan tanpa evaluasi klinis individual.
Integrasi Nutrisi dan Cairan
Kebutuhan energi pasien ICU berkisar 25–30 kkal/kgBB/24 jam.
Sebagai contoh, bila pasien mendapat nutrisi enteral
150 cc setiap 4 jam (600 cc per hari), maka volume ini harus dihitung sebagai
asupan cairan, sehingga kebutuhan cairan intravena dikurangi sesuai jumlah
tersebut. Cairan IV selanjutnya diarahkan untuk koreksi defisit, nutrisi
parenteral total bila diperlukan, atau maintenance.
Langkah 2 — Target Hemodinamik
Target utama adalah MAP ≥ 65 mmHg.
Urutan berpikir:
- Apakah
cairan sudah cukup? Jika belum, lakukan resusitasi.
- Bila
cairan adekuat tetapi MAP tetap rendah, tambahkan vasopresor atau
inotropik seperti norepinefrin, dobutamin, dopamin, vasopresin, atau
adrenalin.
Prinsip Resusitasi
Resusitasi harus terukur dan menghindari overload cairan.
Respons dinilai dari MAP, capillary refill time, laktat, diuresis, dan status
mental, dengan evaluasi ulang minimal setiap jam.
Langkah 3 — Balance Cairan
Semua input dan output dihitung:
Masuk: cairan IV, obat, nutrisi, flush.
Keluar: urine, drain, NGT, feses cair.
Target umum pada dewasa adalah urine ≥0,5 ml/kg/jam,
dengan net balance disesuaikan kondisi klinis.
Langkah 4 — Terapi Spesifik
Terapi diarahkan pada masalah utama:
- Sepsis:
antibiotik tepat waktu, kultur, vasopresor, dan source control.
- Profilaksis
stress ulcer.
- Pencegahan
atau penanganan perdarahan dan trombosis.
- Sedasi
dan analgesia yang adekuat.
- Kontrol
glukosa darah.
- Koreksi
elektrolit.
Langkah 5 — Monitoring Real Time
Semua target harus dipantau terus-menerus: MAP, HR,
SpO₂, urine, parameter ventilator, laktat, balance cairan, serta pemeriksaan
laboratorium serial. Bila target tidak tercapai, koreksi harus segera
dilakukan.
Siklus Pelayanan ICU
Masuk ICU → Evaluasi → Intervensi → Monitoring →
Re-evaluasi → Update DPJP.
Perlu
diingat bahwa tidak ada terapi yang statis; setiap jam adalah
keputusan klinis.
Peran Semua Profesi
Dokter, perawat, analis laboratorium, farmasi,
nutrisionis, dan administrasi klinis harus bergerak dalam satu visi: keselamatan
pasien.
Penutup
Pasien ICU bukan sekadar individu dengan sakit berat,
melainkan sebuah amanah yang menuntut ketelitian klinis, kecepatan dalam
pengambilan keputusan, serta kolaborasi lintas profesi yang solid. Dengan
mengawali setiap ikhtiar melalui niat yang lurus—Bismillah—kita merawat
mereka dengan ilmu pengetahuan yang terbarui, disiplin terhadap protokol, dan
komitmen kuat untuk menyelamatkan nyawa serta menjaga martabat kemanusiaan.
6 Pebruari
2026
By goens’gn

Komentar