Sebuah cerpen “DI HARI KELIMA LEBARAN, AKU MENEMUKAN RINDU YANG TERTINGGAL DI RUMAH MAMAKE” Hari kelima setelah lebaran, ketika sebagian orang perlahan beranjak dari riuh silaturahmi dan kembali menuju hiruk pikuk dunia nyata, pagi ini aku justru memilih sunyi. Malam sebelumnya, aku duduk dalam tahajudku—lama, lebih lama dari biasanya. Sujud terasa berbeda. Ada getar yang tak biasa, seolah hati sedang disentuh oleh sesuatu yang tak kasat. Doa-doa mengalir, bukan sekadar rangkaian kata, melainkan seperti yang ditarik pelan dari kedalaman jiwa yang paling sunyi. Aku berdoa banyak malam itu. Tentang hidup. Tentang waktu. Tentang orang-orang yang diam-diam menjadi alasan aku tetap kuat. Entah kenapa, di antara sekian banyak yang ku sebut dalam doa, satu nama berulang kali muncul, seperti gema yang tak mau hilang , m amake. Sejak kemarin, rindu itu datang tanpa aba-aba. Tidak keras, tidak juga menghentak. Ia datang perlahan, tapi menetap. Mengisi ruang-ruang kosong...
www.igunwinarno.com
Anestesiologogi & Travelling