Langsung ke konten utama

Postingan

CERPEN - AKREDITASI? TELUSUR STANDAR 3 KE 5

Postingan terbaru

CERPEN - AKREDITASI? TELUSUR STANDAR 1 DAN 2 PMKP

  Cerpen AKREDITASI? TELUSUR STANDAR 1 DAN 2 PMKP Oleh Igun Winarno Pertemuan bersama tim Pokja PMKP masih terus berlanjut. Setelah memahami filosofi mutu dan keselamatan pasien, kini mereka akan memasuki pembahasan yang lebih mendalam mengenai setiap standar PMKP beserta elemen penilaiannya. Suasana yang tadinya cukup tegang perlahan mulai mencair. “Maaf Dokter, mau dibuatkan kopi atau teh?” tanya Afni sambil tersenyum ramah. “Wah, Mbak Afni ini pengertian sekali,” jawab Dokter Winarno sambil tertawa kecil. “Boleh deh kopi, biar tambah semangat. Tapi maaf ya, sebenarnya saya kalau bepergian biasanya membawa kopi sendiri.” Beberapa anggota tim langsung tertawa. Tidak lama kemudian secangkir kopi hangat tersaji di hadapan beliau. Aroma kopi yang kuat langsung memenuhi ruangan. “Hmmm... ini baunya enak sekali. Sepertinya arabika ya?” ujar Dokter Winarno sambil menghirup aromanya. Afni tersenyum bangga. “Itu khusus untuk Dokter Winarno. Kopi Gayo Arabika, Dok.” ...

AKREDITASI? TELUSUR PMKP

  AKREDITASI? TELUSUR PMKP Oleh; Igun Winarno Pagi itu Rumah Sakit D amar Husada tampak berbeda dari biasanya. Lorong-lorong rumah sakit terlihat lebih rapi, para staf berjalan lebih sigap, dan hampir semua SDM tampak mempersiapkan diri dengan serius. Suasananya seperti rumah sakit sedang memiliki hajatan besar. Setelah ditelusuri, ternyata hari itu adalah pelaksanaan bimbingan survei akreditasi rumah sakit. Akreditasi menjadi sesuatu yang penting bagi rumah sakit, karena menjadi salah satu tolok ukur apakah pelayanan rumah sakit benar-benar berkualitas, mengutamakan mutu, dan mampu menjaga keselamatan pasien atau tidak. Semua unit tampak sibuk dengan tugas masing-masing, termasuk Pokja PMKP yang sejak pagi sudah terlihat mondar-mandir mempersiapkan berbagai dokumen dan data. Di sudut ruang rapat, Uun tampak gelisah. Wajahnya terlihat tegang sambil membuka beberapa map dokumen di hadapannya. “Kenapa, Mbak? Kok kelihatannya cemas sekali?” tanya Ndari, temannya, dengan nad...