Langsung ke konten utama

Postingan

SELF IMPROVEMENT TANPA DRAMA Fokus Memperbaiki Diri, Bukan Menyenangkan Semua Orang

Postingan terbaru

KETIKA RAMADHAN MENGAJARKAN KITA MEMAHAMI PERBEDAAN

  KETIKA RAMADHAN MENGAJARKAN KITA MEMAHAMI PERBEDAAN by Igun Winarno Setiap tahun, bulan Ramadhan kembali datang membawa suasana yang hampir selalu sama: rindu, harap, dan pembelajaran. Di bulan yang penuh berkah ini, umat Islam di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih hati, menata niat, dan membersihkan jiwa. Harapannya, setelah Ramadhan berlalu, lahirlah pribadi yang lebih bertakwa, hati yang lebih lembut, serta jiwa yang semakin pandai bersyukur atas setiap nikmat yang Allah berikan. Namun, ada satu hal yang hampir selalu hadir dalam perjalanan Ramadhan dari tahun ke tahun, terutama dalam beberapa waktu terakhir: perbedaan dalam menentukan awal dan akhir puasa. Sebagai seorang umat, saya pribadi meyakini bahwa perbedaan ini merupakan bagian dari sunatullah , sesuatu yang memang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Perbedaan adalah realitas yang tidak bisa sepenuhnya dihindari. Ia hadir d...

Sebelum Ketamin Mengalir

 Cerpen anestesi Sebelum Ketamin Mengalir Lampu kamar operasi selalu menyala terang, tanpa bayangan, seolah waktu tak pernah berhenti untuk membedakan antara siang dan malam. Cahaya putih-dingin itu menggantung di atas meja operasi seperti mata yang tak pernah berkedip, memantulkan kilau baja instrumen yang tersusun rapi. Bunyi logam yang bersentuhan membentuk semacam orkestra kecil—ritmis, teratur, hampir syahdu—namun di baliknya tersembunyi ketegangan yang tak pernah benar-benar reda. Bau antiseptik bercampur samar dengan aroma darah; bagi orang luar mungkin memualkan, tetapi bagi mereka yang bekerja di dalamnya, itu adalah bau tanggung jawab. Tim anestesi bekerja dalam konsentrasi seratus satu persen—tanpa ruang untuk lengah. Di ruangan ini, satu miligram obat bukan sekadar angka; ia bisa menjadi pembeda antara stabil dan kolaps, antara sadar kembali atau tak pernah bangun. Monitor berdetak stabil, namun setiap perubahan kecil selalu terasa lebih keras dari bunyinya. Tiba...

“Saving Caring Smilling di Tengah Ramadhan, Adrenalin, dan Doa yang Tak Terucap”

  Sebuah Cerpen Cerpen “ Saving Caring Smilling di Tengah  Ramadhan, Adrenalin, dan Doa yang Tak Terucap” Di dinding pantry ICU itu tertulis tiga kata besar dengan huruf hijau, ditulis miring seolah menjadi penegas sekaligus pengingat bagi jiwa-jiwa penggerak di ruang kritis itu:  Saving, Caring, Smiling . Tiga kata sederhana. Namun bagi mereka yang bekerja di ruang dengan alarm yang tak pernah benar-benar tidur, itu bukan sekadar slogan dinding. Itu adalah janji.  Janji profesional. Janji kemanusiaan. Janji kepada Tuhan. Pagi itu, ruang ICU masih menyisakan aroma desinfektan yang bercampur samar dengan aroma pendingin ruang. Monitor berbunyi ritmis di kejauhan—irama yang hanya dipahami oleh mereka yang terbiasa hidup di antara garis EKG dan angka saturasi. Di  pantry   yang anggun  itu, tampak deretan  Chromebook  berjajar rapi ,  siap mencatat angka-angka vital, menuliskan perjalanan rapuh tubuh manusia, dan menyimpan janji-janji yang ...