Langsung ke konten utama

ASTAGHFIRULLAH

 

ASTAGHFIRULLAH

Manusia adalah tempat salah dan lupa. Dalam perjalanan hidup yang panjang, ada begitu banyak dosa yang sengaja maupun tidak sengaja kita lakukan—dari ucapan yang melukai, sikap yang menyakiti, niat yang tercampur riya, hingga lintasan hati yang kadang jauh dari mengingat Allah.

Karena itulah, sungguh tidak pantas jika ada manusia yang merasa dirinya paling bersih dari kesalahan. Kita semua menyimpan kekurangan, hanya saja Allah dengan sifat-Nya sebagai Al-Qhaffar adalah Dzat Yang Maha Mengampuni dan Maha Menutupi aib hamba-Nya. Betapa banyak kesalahan kita yang seharusnya bisa Allah tampakkan di hadapan manusia, namun Dia memilih menutupinya. Jika Allah berkehendak membuka seluruh aib kita, mungkin rasa malu akan membuat kita sulit menatap dunia. Maka kesadaran bahwa Allah masih menutup keburukan kita seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan kesombongan.

Kalimat “Astaghfirullah” berarti, “Aku memohon ampun kepada Allah.” Kalimat ini seharusnya tidak berhenti sebagai rutinitas lisan setelah shalat atau ucapan spontan ketika mendengar sesuatu yang buruk. Ia semestinya keluar dari hati yang sadar bahwa dirinya lemah. Bahwa kita adalah manusia yang sering khilaf dalam perkataan, tindakan, keputusan, bahkan dalam niat yang tersembunyi sekalipun. Istighfar adalah bentuk kejujuran seorang hamba di hadapan Rabb-nya—pengakuan tulus bahwa tanpa ampunan Allah, kita tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan.

Dalam Al-Qur'an, Allah menggambarkan bahwa istighfar bukan hanya menghadirkan ampunan, tetapi juga membuka pintu keberkahan hidup. Dengan istighfar, Allah dapat melapangkan rezeki, memudahkan urusan, menenangkan hati, dan menghadirkan jalan keluar dari kesulitan yang terasa gelap.

Bisa jadi tubuh kita lelah bekerja seharian, pikiran penat oleh masalah kehidupan, namun ketika hari dihiasi dengan istighfar, ada harapan saat pulang ke rumah jiwa tetap tenang. Kita berharap Allah menutup kesalahan-kesalahan kita, menghapus kegelisahan, dan memudahkan jalan menuju kebahagiaan.

Kita mandi setiap hari karena tubuh kotor oleh debu dan keringat. Namun hati juga memiliki debunya sendiri—debu dosa, kelalaian, kesombongan, iri hati, dan berbagai luka batin yang tak terlihat. Hati pun perlu dibersihkan setiap hari, dan salah satu sabun terbaik bagi hati adalah istighfar. Ia adalah cara manusia tetap pulang kepada Allah, meskipun berkali-kali tersesat dalam perjalanan hidupnya.

Sebagai seorang dokter anestesi, saya sering melihat bagaimana tubuh pasien harus dijaga sterilitasnya. Infeksi harus dicegah, alat operasi harus dibersihkan, prosedur harus dijalankan dengan kehati-hatian tinggi agar tubuh pasien tetap selamat. Namun di balik semua itu, saya belajar bahwa hati manusia pun membutuhkan sterilisasi. Jika di ruang operasi kami mensterilkan alat untuk menyelamatkan tubuh, maka dalam kehidupan sehari-hari kita mensterilkan hati dengan istighfar agar jiwa tetap hidup dan bersih di hadapan Allah.

Ada pelajaran lain yang sangat dalam dari istighfar. Jika Allah begitu sering menutup aib kita, maka semestinya kita juga belajar menutup aib diri sendiri dan aib orang lain. Jangan mudah membuka kekurangan orang, jangan ringan mengumbar keburukan sesama, karena kita pun hidup dalam penjagaan Allah yang setiap saat menutupi kekurangan kita. Sungguh, orang yang sering beristighfar seharusnya tumbuh menjadi pribadi yang lebih lembut lisannya, lebih rendah hatinya, dan lebih mampu menjaga kehormatan orang lain.

Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang menjadi manusia tanpa dosa, karena itu mustahil. Hidup adalah tentang menjadi hamba yang selalu sadar untuk kembali. Selama lisan masih mampu berucap “Astaghfirullah”, selama hati masih menyesal atas kesalahan, maka pintu rahmat Allah masih terbuka. Dan betapa indah jika suatu hari kita kembali kepada-Nya dengan lisan yang terbiasa memohon ampun dan hati yang selalu rindu untuk pulang.

By goens’GN

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEDOMAN ANESTESI DAN PEDIATRIK

PEDOMAN ANESTESI DAN PEDIATRIK 1.     Pendahuluan Penatalaksanaan anestesi pada kelompok pediatri mempunyai aspek psikologi, anatomi, farmakologi, fisiologi dan patologi yang berbeda dengan orang dewasa. Pemahaman atas perbedaan ini merupakan dasar penatalaksanaan anestesi pediatri yang efektif dan aman. Pendekatan psikologis merupakan faktor penting yang berdampak pada luaran anestesi pediatri. Sesuai perkembangannya, kelompok pediatri dibagi dalam kelompok usia neonatus yang lahir kurang bulan dan cukup bulan, bayi usia diatas 1 bulan sampai usia dibawah 1 tahun, anak usia prasekolah usia diatas 1 tahun sampai usia 5 tahun, anak usia sekolah usia 6 tahun sampai 12 tahun dan usia remaja 13 tahun sampai 18 tahun. Neonatus merupakan kelompok yang mempunyai risiko paling tinggi jika dilakukan pembedahan dan anestesi. Patologi yang memerlukan pembedahan berbeda tergantung kelompok usia, neonatus dan bayi memerlukan pembedahan untuk kelainan bawaan sedangkan remaja m...

INFO KOS DI AJIBARANG

  KOS-KOSAN DI AJIBARANG Ingin mendapatkan tempat kos yang menyenangkan ?, Indi’s Kos menyediakan sebuah tempat hunian kos yang menyenangkan, dengan type kamar : Kamar mandi dalam, AC, lemari, spring bed 140 x 200, sprei, bantal dan guling, sebanyak 2 kamar Kamar mandi luar (dalam rumah 2 buah) : springbed 120 x 200, sprei, bantal guling, sebanyak 5 kamar Kamar : bersih Lokasi :  jalan Pramuka no 30, Ajibarang Kulon, Belakang kecamatan Ajibarang. Strategis : Tenang, dekat keramaian dan makanan, tempat parkir luas Bila memerlukan informasi bisa hubungi : Bapak Warsoon : 085292364268 Ruang santai, ruang bersama Kamar Mandi dalam Kamar Kamar Mandi Luar kamar /dalam rumah Kamar Mandi dalam Kamar Kamar Bukan Ber AC Kamar Ber AC

Mengapa Aku Menjadi Seorang Dokter Anestesi

MENGAPA AKU MENJADI SEORANG DOKTER ANESTESI (Sebuah Titik Balik Kehidupan) Sekarang walaupun belum dapat kuraih semuanya, tetapi aku mulai bisa tersenyum mengenang akan masa laluku. Kini aku telah menjadi seorang dokter dan telah mendapatkan spesialisasi dalam jenjang pendidikan di bidang anestesiologi alias pendalaman dalam ilmu pembiusan dan penanganan pasien kegawatdaruratan di ruang intensif (ICU). Memang sih, masih banyak yang belum bisa aku raih tetapi setidaknya kini aku dapat tersenyum dengan kehidupanku sekarang. Aku terlahir disebuah desa kecil dengan kultur budaya pendidikan yang   tidak   menunjang, jangankan bermimpi untuk menjadi seorang dokter, untuk sekolah sampai jenjang menengah pertama dan atas saja masih menjadi barang yang langka. Untung aku terlahir mempunyai seorang bapak yang memang berorientasi pada pendidikan, walaupun susah dari sisi ekonomi untuk menjalaninya. Bapakku merupakan seorang pendidik yang berhenti entah mengapa, karena jaman at...