ASTAGHFIRULLAH
Manusia adalah tempat salah dan
lupa. Dalam perjalanan hidup yang panjang, ada begitu banyak dosa yang sengaja
maupun tidak sengaja kita lakukan—dari ucapan yang melukai, sikap yang
menyakiti, niat yang tercampur riya, hingga lintasan hati yang kadang jauh dari
mengingat Allah.
Karena itulah, sungguh tidak
pantas jika ada manusia yang merasa dirinya paling bersih dari kesalahan. Kita
semua menyimpan kekurangan, hanya saja Allah dengan sifat-Nya sebagai Al-Qhaffar adalah
Dzat Yang Maha Mengampuni dan Maha Menutupi aib hamba-Nya. Betapa banyak
kesalahan kita yang seharusnya bisa Allah tampakkan di hadapan manusia, namun
Dia memilih menutupinya. Jika Allah berkehendak membuka seluruh aib kita,
mungkin rasa malu akan membuat kita sulit menatap dunia. Maka kesadaran bahwa
Allah masih menutup keburukan kita seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan
kesombongan.
Kalimat “Astaghfirullah”
berarti, “Aku memohon ampun kepada Allah.” Kalimat ini seharusnya tidak
berhenti sebagai rutinitas lisan setelah shalat atau ucapan spontan ketika
mendengar sesuatu yang buruk. Ia semestinya keluar dari hati yang sadar bahwa
dirinya lemah. Bahwa kita adalah manusia yang sering khilaf dalam perkataan,
tindakan, keputusan, bahkan dalam niat yang tersembunyi sekalipun. Istighfar
adalah bentuk kejujuran seorang hamba di hadapan Rabb-nya—pengakuan tulus bahwa tanpa ampunan Allah, kita tidak
memiliki apa-apa untuk dibanggakan.
Dalam Al-Qur'an, Allah
menggambarkan bahwa istighfar bukan hanya menghadirkan ampunan, tetapi juga
membuka pintu keberkahan hidup. Dengan istighfar, Allah dapat melapangkan
rezeki, memudahkan urusan, menenangkan hati, dan menghadirkan jalan keluar dari
kesulitan yang terasa gelap.
Bisa jadi tubuh kita lelah
bekerja seharian, pikiran penat oleh masalah kehidupan, namun ketika hari
dihiasi dengan istighfar, ada harapan saat pulang ke rumah jiwa tetap tenang.
Kita berharap Allah menutup kesalahan-kesalahan kita, menghapus kegelisahan,
dan memudahkan jalan menuju kebahagiaan.
Kita mandi setiap hari karena
tubuh kotor oleh debu dan keringat. Namun hati juga memiliki debunya
sendiri—debu dosa, kelalaian, kesombongan, iri hati, dan berbagai luka batin
yang tak terlihat. Hati pun perlu dibersihkan setiap hari, dan salah satu sabun
terbaik bagi hati adalah istighfar. Ia adalah cara manusia tetap pulang kepada
Allah, meskipun berkali-kali tersesat dalam perjalanan hidupnya.
Sebagai seorang dokter anestesi,
saya sering melihat bagaimana tubuh pasien harus dijaga sterilitasnya. Infeksi
harus dicegah, alat operasi harus dibersihkan, prosedur harus dijalankan dengan
kehati-hatian tinggi agar tubuh pasien tetap selamat. Namun di balik semua itu,
saya belajar bahwa hati manusia pun membutuhkan sterilisasi. Jika di ruang
operasi kami mensterilkan alat untuk menyelamatkan tubuh, maka dalam kehidupan
sehari-hari kita mensterilkan hati dengan istighfar agar jiwa tetap hidup dan
bersih di hadapan Allah.
Ada pelajaran lain yang sangat
dalam dari istighfar. Jika Allah begitu sering menutup aib kita, maka semestinya
kita juga belajar menutup aib diri sendiri dan aib orang lain. Jangan mudah
membuka kekurangan orang, jangan ringan mengumbar keburukan sesama, karena kita
pun hidup dalam penjagaan Allah yang setiap saat menutupi kekurangan kita.
Sungguh, orang yang sering beristighfar seharusnya tumbuh menjadi pribadi yang
lebih lembut lisannya, lebih rendah hatinya, dan lebih mampu menjaga kehormatan
orang lain.
Pada akhirnya, hidup ini bukan
tentang menjadi manusia tanpa dosa, karena itu mustahil. Hidup adalah tentang
menjadi hamba yang selalu sadar untuk kembali. Selama lisan masih mampu berucap
“Astaghfirullah”, selama hati masih menyesal atas kesalahan, maka pintu
rahmat Allah masih terbuka. Dan betapa indah jika suatu hari kita kembali
kepada-Nya dengan lisan yang terbiasa memohon ampun dan hati yang selalu rindu
untuk pulang.
By goens’GN

Komentar