Cerpen anestesi
Sebelum Ketamin Mengalir
Lampu
kamar operasi selalu menyala terang, tanpa bayangan, seolah waktu tak pernah
berhenti untuk membedakan antara siang dan malam. Cahaya putih-dingin itu
menggantung di atas meja operasi seperti mata yang tak pernah berkedip,
memantulkan kilau baja instrumen yang tersusun rapi. Bunyi logam yang
bersentuhan membentuk semacam orkestra kecil—ritmis, teratur, hampir
syahdu—namun di baliknya tersembunyi ketegangan yang tak pernah benar-benar
reda. Bau antiseptik bercampur samar dengan aroma darah; bagi orang luar
mungkin memualkan, tetapi bagi mereka yang bekerja di dalamnya, itu adalah bau
tanggung jawab.
Tim
anestesi bekerja dalam konsentrasi seratus satu persen—tanpa ruang untuk
lengah. Di ruangan ini, satu miligram obat bukan sekadar angka; ia bisa menjadi
pembeda antara stabil dan kolaps, antara sadar kembali atau tak pernah bangun.
Monitor berdetak stabil, namun setiap perubahan kecil selalu terasa lebih keras
dari bunyinya.
Tiba-tiba
ponsel Dokter Goen bergetar di saku jas operasi. Getaran pendek,
berulang—panggilan dari IGD. Ia melirik layar: Dr. Azka.
Segera
diangkat.
“Selamat
sore, Dok…” Suara di seberang terdengar gemetar, seperti senar gitar yang
dipetik terlalu tegang.
“Iya, Dok
Azka. Ada apa?” jawab Dokter Goen tenang, meski nalurinya langsung siaga.
“Dok… ini
ada pasien serius. Tampak syok. Post-KLL, fraktur femur terbuka. MAP lima puluh
empat, Hb sembilan, perdarahan masih aktif. Dokter ortopedi rencana cyto.
Bagaimana, Dok?”
Kalimat
itu meluncur cepat, nyaris tanpa jeda
tak jelas antara pertanyaan, laporan atau permohonan kepastian.
Dokter
Goen terdiam sepersekian detik. MAP 54. Itu bukan angka yang bisa ditawar.
“Baik.
Informasikan ke pasien dan keluarga. Siapkan informed consent. Puasakan segera. Loading 1000cc cairan kristaloid cepat—ringer
laktat. Tambahkan koloid juga. Siapkan
dua kantong PRC, crossmatch segera. Pantau ketat hemodinamiknya.”
Ia
menarik napas pendek.
“Nanti
saya asesmen ulang di IBS. Begitu stabil minimal, kirim ke kamar operasi.
Jangan tunda.”
“Baik,
Dok…” jawab Azka, kali ini sedikit lebih mantap.
Panggilan
terputus.
Lampu
kamar operasi tetap menyala sama terangnya.
Namun kini, cahaya itu seakan menunggu seseorang yang datang dengan tekanan
darah lima puluh empat dan waktu
yang mungkin tak banyak tersisa.
“Mega, Rani…..ada pasien syok sedang resusitasi,
rencana mau orif femur, siapkan segera GETA” Perintah dokter Goen kepada tim
anestesi.
“Siap Dokter…..” Rani dan mega secara trengginas
segera menyipakan segala ugorampainya, STATICS, mnemonic kesiapan alat
sebelum intubasi, yang memastikan semua perangkat esensial tersedia dan
berfungsi: Stethoscope untuk konfirmasi ventilasi bilateral, Tube (ETT) dengan ukuran sesuai, Airway
adjunct seperti bagging set lengkap, OPA, oksigen dan sirkuit siap pakai, Tape
untuk fiksasi ETT, Introducer (bougie/stylet) sebagai alat bantu pemasangan, serta Connector
yang menghubungkan ETT dengan sirkuit oksigen; rangkaian sederhana namun
krusial agar proses pengamanan jalan napas berjalan cepat, presisi, dan aman
tanpa improvisasi yang berisiko.
“Mbak
Rani… obat yang dipakai apa ini?” Mega berbisik sambil memandangi ampul yang
sudah disiapkan di atas meja anestesi.
“Aku tadi
sempat tanya ke Dokter Goen. Katanya pakai ketamin, midazolam, dan rocuronium,”
jawab Rani pelan namun mantap.
Mega mengernyit. “Bukan
propofol?”
Rani
menggeleng. “Tadi dokter sudah menegaskan. Pasien ini syok. Kalau pakai
propofol, risiko vasodilatasi makin dalam, tekanan bisa jatuh lagi. Ketamin
lebih aman untuk kondisi seperti ini, efek
simpatomimetiknya bisa bantu pertahankan tekanan darah.”
Mega mengangguk perlahan,
mencerna.
“Oh… jadi bukan soal kebiasaan ya.”
“Iya,”
sahut Rani. “Kita tidak harus selalu pakai obat yang sama. Semua disesuaikan
dengan kondisi pasien. Hemodinamik dulu yang kita selamatkan.”
Belum sempat percakapan itu
selesai, pintu kamar operasi terbuka.
“Dokter, pasien sudah datang…
langsung masuk?” panggil Nila kepada Dokter Goen yang berdiri di sisi ruangan.
“Sebentar. Saya periksa dulu,”
jawabnya singkat.
Brankar
didorong masuk. Pasien tampak lebih tenang dibanding laporan awal. Cairan infus
masih menetes cepat. Monitor portabel menunjukkan tekanan darah yang sedikit
membaik.
Dokter Goen bergerak cepat namun
terukur.
“MAP sekarang?”
“Enam puluh delapan, Dok,” jawab Mega setelah memasang monitor definitif.
Nadi
masih cepat, tapi tidak setipis sebelumnya. Kesadaran membaik, pasien bisa
menjawab singkat meski wajahnya pucat.
Dokter
Goen menilai ulang: airway relatif
aman, breathing adekuat, sirkulasi
membaik setelah resusitasi. Tidak ideal, tetapi cukup untuk melangkah
hati-hati.
Ia menatap timnya.
“Kita lanjut. Preoksigenasi tiga
sampai lima menit. Pastikan oksigen penuh.”
Rani memasang masker dengan
rapat.
“Reservoir terisi. Saturasi 99%.”
“Ketamin
titrasi perlahan. Midazolam dosis kecil saja. Jangan agresif. Rocuronium
setelah refleks cukup turun,” instruksi Dokter Goen.
Mega memegang spuit.
“Siap, Dok.”
Pasien menatap lampu operasi yang
menyilaukan.
“Mas,
kami akanmulai bius dan membuat Mas tidur sekarang. Kami akan menjaga napas dan
jantungnya. Mari kita berdoa dulu. Baca bersama saya, hasbunallah wanikmal
wakil, nikmal maula wanikmal wakil, la haula wala kuwata illa billah,” ujar
Dokter Goen dengan suara tenang dan mantap.
Pasien
itu mengangguk pelan, bibirnya bergerak lirih mengikuti setiap kalimat, sebelum
kelopak matanya perlahan terpejam.
Jarum masuk ke jalur intravena.
“Midazolam masuk… perlahan,” ucap Mega, mencoba melakukan double ceck.
Beberapa detik berlalu. Kelopak
mata pasien mulai berat.
“Ketamin masuk.”, airway terjaga, Tekanan darah stabil di 92/60.
“Rocuronium siap.”
Dokter
Goen menunggu dengan sabar, memastikan ventilasi tetap adekuat melalui bagging
yang lembut dan terkontrol. Dada pasien mengembang simetris setiap kali oksigen
masuk.
“Ventilasi
baik, Dok. Pengembangan dada kanan-kiri sama,” lapor Rani mantap.
“Masukkan
rokuronium tiga puluh miligram,” perintah Dokter Goen tenang.
Obat
masuk perlahan melalui jalur intravena. Waktu terasa melambat. Tiga menit
ditunggu dengan disiplin, sambil dilakukan hiperventilasi menggunakan oksigen
seratus persen untuk memastikan cadangan oksigen optimal sebelum hening
berikutnya dimulai.
“Lanjutkan
intubasi,” ujar Dokter Goen.
“Baik.
Laringoskop,” jawab Rani, tangannya mantap saat memasukkan bilah laringoskop
dengan gerakan terukur.
Suasana
seketika sunyi. Hanya terdengar desis oksigen dan bunyi monitor yang tetap
setia berdetak.
“Pita
suara terlihat… tabung endotrakeal masuk… balon dikembangkan.”
Beberapa
detik menegangkan berlalu.
“Kapnografi
muncul, Dok. ETCO₂ positif. Auskultasi kanan-kiri simetris,” lapor Mega setelah
memastikan dengan stetoskop.
Dokter
Goen mengangguk kecil, nyaris tak terlihat, namun penuh makna.
“Fiksasi.
Amankan.”
Plester
terpasang rapi. Ventilator mulai bekerja ritmis, menggantikan napas yang tadi
masih diupayakan dengan tangan.
Tekanan
darah tetap bertahan.
Di bawah
cahaya lampu kamar operasi yang tak pernah redup itu, seorang pasien kembali
tertidur—kali ini dalam penjagaan yang lebih siap, lebih terukur, dan melalui
keputusan yang tidak diambil secara tergesa-gesa.
Proses
pembersihan area operasi dimulai. Cairan desinfektan diusap berulang pada paha
kanan yang mengalami fraktur sepertiga proksimal. Pasien fraktur sepertiga proksimal diposisikan
supinasi dengan penopang yang stabil. Kain steril terpasang rapi, membatasi
medan operasi dalam ketegangan yang terukur.
“Pasien
siap, Dok,” tegas Windi, perawat asisten operasi, memastikan seluruh instrumen
telah tersusun.
“Baik…
mohon izin, Dok Goen,” ujar Dokter Jiva, spesialis ortopedi. Setelah doa
singkat dan prosedur time out dilakukan—memastikan identitas, sisi
operasi, dan kesiapan tim—pisau menyentuh kulit dengan irisan pertama yang
presisi.
Beberapa
menit kemudian, situasi berubah.
“Perdarahan
aktif!” seru Dokter Jiva. “Ada robekan arteri!”
Tim bedah
dengan ketangginasannya berusaha menghentikan sumber perdarahan—elektrokauter
dinyalakan untuk membakar titik-titik yang aktif, sementara jahitan vaskular
dipasang cepat dan presisi pada jaringan yang robek. Gerakan mereka terukur
namun tegas, berpacu dengan waktu yang terasa semakin sempit.
Namun
darah mengalir lebih deras dari perkiraan. Suction bekerja tanpa henti,
mengisap cairan merah yang terus memenuhi lapangan operasi, tetapi warna itu
tetap mendominasi. Setiap kali kasa diangkat, merah kembali muncul, seolah
tubuh belum siap berhenti kehilangan.
Monitor
berbunyi lebih cepat.
Tekanan darah turun.
90/60… 82/50…
“Perdarahan
sudah tujuh ratus lima puluh mililiter!” lapor Nila salah seorang tim bedah memberikan respon dengan
suara meninggi.
“Tekanan
turun, Dok!” ujar Mega.
Dokter
Goen langsung berdiri lebih tegak. “Buka dua jalur besar sekarang! Pastikan
keduanya lancar!”
“Jalur
kiri sudah delapan belas
gauge!” jawab Rani.
“Tambahkan
satu lagi di kanan! Transfusi percepat! Siapkan darah berikutnya!”
“Vasopresor
naikkan sedikit?” tanya Mega cepat.
“Titrasi
perlahan. Jangan sampai over. Kita kejar volumenya dulu,” jawab Dokter Goen
tegas.
Suasana
sempat gaduh—suara suction, instruksi cepat, langkah kaki tergesa, bunyi
monitor yang semakin tajam. Namun di tengah kegaduhan itu, koordinasi tetap
terjaga. Tidak ada yang panik, hanya fokus yang meningkat.
Darah
pengganti masuk. Cairan mengalir deras. Perlahan tekanan kembali merangkak
naik.
88/54…
94/60…
“Perdarahan
terkendali!” seru Dokter Jiva setelah arteri berhasil diikat dan dikontrol.
Dua
setengah jam berlalu dalam peluh dan konsentrasi penuh. Total perdarahan
mendekati seribu lima ratus mililiter. Wajah pasien tampak semakin pucat, namun
monitor menunjukkan hemodinamik yang relatif stabil berkat resusitasi agresif
dan ketersediaan darah yang cukup.
“Operasi
selesai,” ujar Dokter Jiva akhirnya.
Dokter
Goen menilai kembali kondisi pasien. Gas darah cukup baik, refleks mulai
muncul, ventilasi adekuat.
“Kita
ekstubasi perlahan,” katanya.
Beberapa
menit kemudian, tabung endotrakeal dilepas dengan hati-hati. Pasien bernapas
spontan meski lemah.
“Untuk keamanan,
kita observasi ketat di ICU,” putus Dokter Goen. “Perdarahan signifikan, risiko
instabilitas masih ada.”
Semua
mengangguk.
Brankar
didorong keluar kamar operasi. Lampu tetap menyala seperti biasa—terang,
konstan, tak berubah.
Namun
malam itu, di bawah cahaya yang tak pernah redup itu, satu nyawa berhasil
melewati batas tipis antara kehilangan dan kesempatan kedua.
Pasien
selamat.
Dan
seluruh tim menghela napas panjang, dalam syukur yang tidak perlu diucapkan
keras-keras.
by goens'Gn

Komentar