Makna Isra Mi’raj
Antara Logika dan Iman
Oleh: Igun
Winarno
Isra Mi’raj adalah sebuah
perjalanan agung yang, apabila hanya didekati dengan logika rasional semata
tanpa disertai iman, akan tampak sebagai peristiwa yang mustahil. Bagaimana
mungkin seseorang melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha,
lalu menembus lapisan langit hanya dalam satu malam? Namun ketika peristiwa ini
dipahami dengan logika iman, semuanya menjadi terang dan masuk akal. Sebab,
yang menggerakkan peristiwa ini bukan hukum fisika manusia, melainkan kehendak
Allah Subhanahu wa Ta’ala—Pemilik seluruh makhluk, Penguasa alam semesta, dan
Pencipta ruang serta waktu itu sendiri. Bagi-Nya, tidak ada satu pun yang sulit
atau mustahil.
Perjalanan Isra dan Mi’raj
yang dialami oleh Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan
perjalanan ruhani yang sarat dengan pesan kehidupan. Peristiwa ini terjadi pada
fase berat dalam dakwah Rasulullah ﷺ, setelah kehilangan orang-orang tercinta
dan menghadapi penolakan yang menyakitkan. Seolah Allah sedang menguatkan hati
hamba-Nya, bahwa setelah kesulitan selalu ada pertolongan, dan setelah ujian
selalu ada kemuliaan.
Perintah utama yang kita
terima dari peristiwa agung ini adalah shalat. Ia bukan sekadar kewajiban
ritual, tetapi fondasi kehidupan seorang mukmin. Shalat adalah tiang agama,
penghubung langsung antara hamba dan Tuhannya, yang harus tetap ditegakkan
dalam kondisi apa pun—baik saat lapang maupun sempit, sehat maupun sakit,
senang maupun gelisah. Tidak berlebihan jika shalat disebut sebagai hadiah
langit bagi umat Nabi Muhammad ﷺ.
Namun Isra Mi’raj tidak
berhenti pada perintah shalat semata. Di dalamnya tersimpan banyak pelajaran
kehidupan yang mendalam. Ketika Nabi ﷺ bertemu dengan Nabi Adam ‘alaihissalam,
diceritakan bahwa beliau merasakan kegembiraan dan kesedihan ketika melihat
umatnya di sisi kanan dan kiri. Ini adalah simbol yang sangat kuat bahwa
kehidupan manusia selalu diwarnai dua sisi: kebaikan dan keburukan, ketaatan
dan kelalaian. Keduanya adalah bagian dari sunnatullah yang harus kita sikapi
dengan iman kepada qadha dan qadar, sambil terus berusaha memilih jalan yang
diridhai Allah.
Pelajaran penting lainnya
muncul ketika Nabi ﷺ bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam. Dalam dialog
tersebut, Nabi Musa berulang kali menyarankan agar Rasulullah ﷺ kembali memohon
keringanan jumlah shalat. Sekilas, sikap ini tampak seperti perdebatan atau
bahkan keras. Namun justru dari dialog inilah lahir rahmat besar bagi umat
Islam: kewajiban shalat yang semula 50 waktu diringankan menjadi 5 waktu, namun
dengan pahala setara 50 waktu. Sebuah bukti nyata bahwa kasih sayang Allah
melampaui batas nalar manusia.
Dari sini kita belajar satu
hikmah penting: jangan tergesa-gesa menilai orang lain secara negatif. Sikap
yang tampak keras, berbeda, atau bahkan tidak sejalan dengan kita, belum tentu
membawa keburukan. Bisa jadi, di baliknya tersimpan maslahat besar yang belum
kita pahami. Kehidupan sering kali tidak langsung menampakkan maknanya.
Perbedaan sendiri adalah sunnatullah.
Kita tidak pernah benar-benar mengetahui isi pikiran dan kedalaman hati
seseorang. Tidak semua yang tampak baik di hadapan kita memiliki niat yang baik
di baliknya, dan tidak semua yang tampak keras berarti memiliki maksud buruk.
Penilaian manusia sangat terbatas, sementara hikmah Allah selalu luas dan
melampaui jangkauan akal.
Pelajaran serupa juga
tergambar jelas dalam kisah perjalanan Nabi Musa bersama Nabi Khidir ‘alaihimas
salam. Ketika Nabi Khidir melubangi perahu yang mereka tumpangi, Nabi Musa
menegurnya karena menganggap perbuatan itu sebagai kesalahan. Namun di balik
tindakan yang tampak merugikan tersebut, tersembunyi hikmah besar: perahu itu
sengaja dirusak agar tidak dirampas oleh para perampok. Dan pada akhirnya,
kebenaran pun terungkap—bahwa tidak semua yang terlihat buruk memang buruk
adanya.
Dari seluruh rangkaian
peristiwa Isra Mi’raj dan kisah para nabi tersebut, kita diajak untuk belajar
bersikap rendah hati dalam menilai kehidupan. Tugas kita bukanlah menghakimi,
melainkan meningkatkan keimanan, menjaga shalat, menghargai perbedaan, dan
menahan diri dari prasangka buruk. Kita juga diajarkan untuk memperbanyak doa,
bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk teman, saudara, dan
orang-orang di sekitar kita.
Semoga dengan kebaikan
orang-orang di sekitar kita, Allah menghadirkan kebaikan pula bagi diri kita
dan keluarga kita.
Allahumma aamiin.
Orang yang sedang berusaha jalan
By. Igun Winarno

Komentar