Langsung ke konten utama

Strategi Anestesi Umum pada Sectio caesarea Eklampsia dalam Menurunkan Risiko Atonia Uteri


Strategi Anestesi Umum pada Sectio caesarea Eklampsia dalam Menurunkan Risiko Atonia Uteri

Oleh: dr. Igun Winarno, Sp.An-TI, FSIQua


Pendahuluan

Eklampsia merupakan komplikasi obstetri berat yang ditandai oleh terjadinya kejang pada kehamilan dengan gangguan hipertensi dan masih menjadi penyebab penting morbiditas serta mortalitas maternal. Kondisi ini mencerminkan gangguan sistemik yang melibatkan disfungsi endotel, vasospasme, serta penurunan perfusi organ vital. Pada keadaan tertentu, seperti kejang berulang, penurunan kesadaran, atau kegawatan ibu dan janin, terminasi kehamilan harus segera dilakukan, dan sectio caesarea (SC) sering menjadi pilihan utama untuk menyelamatkan ibu dan janin.

Namun, tindakan SC pada pasien eklampsia memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan kehamilan normal, salah satunya adalah atonia uteri. Atonia uteri merupakan penyebab tersering perdarahan postpartum dan berperan besar dalam kematian maternal. Pada eklampsia, gangguan perfusi miometrium, hipoksia jaringan, serta disfungsi koagulasi berkontribusi terhadap penurunan kemampuan uterus untuk berkontraksi secara efektif setelah persalinan, sehingga meningkatkan risiko perdarahan hebat.

Pemilihan teknik anestesi pada SC pasien eklampsia menjadi aspek yang sangat menentukan luaran klinis. General endotracheal tube anesthesia (GETA) sering digunakan pada kondisi eklampsia dengan kejang aktif, penurunan kesadaran, atau kontraindikasi anestesi regional. Meskipun demikian, penggunaan GETA memiliki implikasi fisiologis yang perlu diperhatikan, terutama efek agen anestesi inhalasi terhadap stabilitas hemodinamik dan tonus uterus. Efek relaksasi miometrium yang bersifat dosis-dependent dapat memperberat terjadinya atonia uteri dan meningkatkan risiko perdarahan postpartum.

Oleh karena itu, kombinasi eklampsia, tindakan sectio caesarea, dan penggunaan GETA membentuk suatu kondisi klinis yang kompleks, di mana patofisiologi penyakit, trauma pembedahan, dan efek farmakologis anestesi saling berinteraksi dan berpotensi meningkatkan risiko atonia uteri. Pemahaman yang komprehensif mengenai hubungan ini sangat penting sebagai dasar pengambilan keputusan anestesi dan strategi pencegahan perdarahan pada pasien eklampsia yang menjalani SC.

Di Indonesia, gangguan hipertensi dalam kehamilan, termasuk preeklamsia dan eklampsia, secara konsisten menempati peringkat atas penyebab kematian ibu. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa hipertensi dalam kehamilan menyumbang sekitar 25–30% penyebab kematian maternal, bersaing dengan perdarahan obstetri sebagai penyebab utama. Insidensi eklampsia di fasilitas rujukan masih relatif tinggi, terutama pada kasus rujukan terlambat, keterbatasan antenatal care, dan keterlambatan penanganan kegawatdaruratan obstetri.

Perdarahan postpartum tetap menjadi penyebab kematian maternal terbanyak di Indonesia, dengan atonia uteri sebagai faktor dominan. Pada pasien eklampsia yang menjalani sectio caesarea, risiko perdarahan menjadi lebih besar akibat kombinasi kondisi sistemik penyakit, tindakan pembedahan, serta faktor anestesi. Kondisi ini menjadikan eklampsia dengan atonia uteri sebagai masalah klinis yang sangat relevan dalam praktik obstetri dan anestesi di Indonesia, khususnya di rumah sakit rujukan dan daerah dengan keterbatasan sumber daya.

Definisi Operasional

Eklampsia didefinisikan sebagai terjadinya kejang tonik-klonik umum dan/atau penurunan kesadaran hingga koma pada wanita hamil, bersalin, atau dalam masa nifas dengan preeklamsia, yang tidak dapat dijelaskan oleh penyebab neurologis lain seperti epilepsi, perdarahan intrakranial, infeksi sistem saraf pusat, atau gangguan metabolik. Kondisi ini merepresentasikan spektrum paling berat dari gangguan hipertensi dalam kehamilan, yang mencerminkan kegagalan kompensasi sistemik terhadap disfungsi endotel dan vasospasme luas.

Secara klinis, eklampsia merupakan keadaan kegawatdaruratan obstetri yang mengancam nyawa ibu dan janin, ditandai oleh instabilitas hemodinamik, gangguan perfusi organ vital, serta peningkatan risiko komplikasi serius seperti stroke, edema paru, gagal ginjal akut, dan gangguan koagulasi. Dalam konteks manajemen obstetri, diagnosis eklampsia menjadi dasar utama pengambilan keputusan untuk terminasi kehamilan segera, termasuk melalui tindakan sectio caesarea bila kondisi maternal atau janin tidak memungkinkan persalinan pervaginam.

Atonia uteri adalah kondisi kegagalan miometrium untuk berkontraksi dan beretraksi secara adekuat setelah persalinan, yang mengakibatkan pembuluh darah spiral di tempat implantasi plasenta tidak terjepit secara fisiologis. Akibatnya, terjadi perdarahan postpartum yang berlebihan dan berpotensi masif. Secara operasional, atonia uteri merupakan penyebab utama perdarahan postpartum primer dan menjadi faktor dominan dalam morbiditas serta mortalitas maternal di berbagai sistem pelayanan kesehatan.

Dalam keadaan normal, kontraksi dan retraksi miometrium berfungsi sebagai mekanisme hemostasis fisiologis dengan menutup pembuluh darah uterus. Pada atonia uteri, mekanisme ini gagal akibat gangguan kontraktilitas otot polos uterus, yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kelelahan miometrium, hipoksia jaringan, gangguan elektrolit, efek farmakologis obat-obatan, serta kondisi sistemik seperti eklampsia. Pada pasien dengan eklampsia yang menjalani sectio caesarea, risiko terjadinya atonia uteri meningkat secara bermakna karena adanya kombinasi faktor patofisiologis penyakit, trauma pembedahan, dan efek anestesi.

Dalam kajian ini, eklampsia dan atonia uteri dipahami sebagai dua entitas klinis yang saling berkaitan melalui mekanisme patofisiologis yang kompleks. Eklampsia menciptakan kondisi sistemik yang menurunkan kemampuan adaptasi uterus, sedangkan atonia uteri menjadi manifestasi lokal yang berdampak langsung pada terjadinya perdarahan postpartum. Definisi operasional ini digunakan sebagai landasan untuk menganalisis hubungan antara eklampsia, tindakan sectio caesarea, serta penggunaan General endotracheal tube anesthesia (GETA) dalam meningkatkan risiko perdarahan obstetri.

Angka Kejadian dan Mortalitas

Eklampsia merupakan komplikasi obstetri yang relatif jarang, namun memiliki dampak klinis yang sangat signifikan. Secara global, insidensi eklampsia dilaporkan berkisar antara 1–5 per 1.000 persalinan, dengan variasi yang luas antar wilayah dan sistem pelayanan kesehatan. Angka kejadian cenderung lebih tinggi di negara berkembang, terutama pada populasi dengan keterbatasan akses terhadap antenatal care yang adekuat dan sistem rujukan obstetri yang belum optimal.

Mortalitas maternal akibat eklampsia menunjukkan perbedaan yang mencolok antara negara maju dan negara berkembang. Di negara maju, angka kematian maternal akibat eklampsia dilaporkan kurang dari 1%, mencerminkan keberhasilan deteksi dini, stabilisasi intensif, dan tata laksana multidisiplin. Sebaliknya, di negara berkembang, mortalitas maternal masih berkisar antara 5–14%, dengan eklampsia tetap menjadi penyebab kematian ibu yang penting.

Penyebab utama kematian pada pasien eklampsia meliputi stroke hemoragik akibat krisis hipertensi, edema paru sebagai manifestasi kelebihan cairan dan disfungsi kardiopulmoner, gagal multiorgan akibat hipoperfusi sistemik, serta perdarahan obstetri yang sering terjadi pada periode intrapartum dan postpartum. Perdarahan obstetri, khususnya yang disebabkan oleh atonia uteri, menjadi faktor yang sangat menentukan luaran akhir pasien eklampsia.

Atonia uteri merupakan penyebab utama perdarahan postpartum dan menyumbang sekitar 70–80% dari seluruh kasus perdarahan postpartum primer. Kondisi ini tetap menjadi tantangan besar dalam praktik obstetri karena onset yang cepat, volume perdarahan yang masif, serta kebutuhan penanganan yang segera dan terkoordinasi. Risiko terjadinya atonia uteri meningkat secara signifikan pada pasien yang menjalani sectio caesarea, terutama bila disertai komplikasi obstetri seperti gangguan hipertensi dalam kehamilan.

Kehamilan dengan komplikasi hipertensi, termasuk preeklamsia dan eklampsia, diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko atonia uteri akibat gangguan perfusi miometrium, hipoksia jaringan, dan disfungsi koagulasi. Selain itu, penggunaan anestesi umum, khususnya dengan agen anestesi inhalasi, berkontribusi terhadap penurunan kontraktilitas miometrium secara dosis-dependent, sehingga semakin meningkatkan risiko terjadinya atonia uteri pada pasien yang menjalani SC.

Mortalitas maternal akibat atonia uteri meningkat secara bermakna bila terjadi pada pasien dengan eklampsia. Kondisi sistemik eklampsia menyebabkan cadangan fisiologis yang terbatas, respons kompensasi yang terganggu, serta kecenderungan terjadinya koagulopati, sehingga perdarahan postpartum dapat dengan cepat berkembang menjadi syok hipovolemik dan kegagalan multiorgan. Oleh karena itu, kombinasi eklampsia dan atonia uteri merupakan kondisi obstetri berisiko tinggi yang memerlukan kewaspadaan maksimal dan penanganan agresif sejak fase intraoperatif hingga postpartum.

Patofisiologi Eklampsia dan Dampaknya terhadap Sirkulasi

Eklampsia merupakan manifestasi klinis dari gangguan sistemik yang kompleks, berawal dari disfungsi endotel yang luas dan berlanjut menjadi gangguan regulasi vaskular serta hemostasis. Pada kondisi ini terjadi ketidakseimbangan antara faktor vasodilator dan vasokonstriktor, yang menyebabkan vasospasme generalisata dan peningkatan resistensi vaskular sistemik. Disfungsi endotel juga memicu peningkatan permeabilitas kapiler, sehingga cairan intravaskular mudah berpindah ke ruang interstisial.

Secara sistemik, eklampsia ditandai oleh beberapa mekanisme utama, yaitu disfungsi endotel sistemik, vasospasme luas, peningkatan resistensi vaskular sistemik, kebocoran kapiler, serta aktivasi koagulasi intravaskular. Aktivasi jalur koagulasi, yang dapat berkembang hingga koagulopati konsumtif, memperburuk perfusi jaringan dan meningkatkan risiko perdarahan pada fase lanjut penyakit.

Konsekuensi dari proses tersebut adalah penurunan perfusi organ vital, termasuk otak, ginjal, paru, hati, dan uterus. Hipoperfusi yang persisten menyebabkan hipoksia jaringan, disfungsi metabolik seluler, serta gangguan mekanisme kompensasi kardiovaskular. Selain itu, ketidakseimbangan distribusi cairan antara kompartemen intravaskular dan ekstravaskular menyebabkan keadaan paradoks, di mana pasien dapat mengalami edema jaringan meskipun secara fungsional berada dalam kondisi hipovolemia relatif. Kondisi ini sangat memengaruhi respons tubuh terhadap stres pembedahan dan perdarahan.

Dampak eklampsia terhadap sirkulasi uterus merupakan konsekuensi langsung dari vasospasme sistemik dan gangguan mikrosirkulasi. Vasospasme pada arteri uterina dan pembuluh darah miometrium menyebabkan hipoperfusi miometrium, sehingga suplai oksigen dan nutrien ke jaringan uterus menjadi tidak adekuat. Hipoperfusi ini berperan penting dalam menurunkan kapasitas kontraksi otot polos uterus.

Hipoksia miometrium yang terjadi secara berkelanjutan mengganggu metabolisme sel otot polos uterus, khususnya proses yang bergantung pada ketersediaan energi dan ion kalsium. Kondisi ini menyebabkan penurunan kemampuan kontraksi miometrium dan melemahkan mekanisme retraksi uterus yang diperlukan untuk hemostasis fisiologis pascapersalinan. Selain itu, peningkatan permeabilitas kapiler menyebabkan edema jaringan uterus, yang secara mekanis mengganggu interaksi aktin–miosin dan menurunkan efisiensi kontraksi.

Proses inflamasi sistemik yang menyertai eklampsia juga berkontribusi terhadap aktivasi mediator inflamasi dan stres oksidatif, yang mempercepat kelelahan miometrium. Kombinasi hipoksia, edema jaringan, dan kelelahan sel otot polos ini menciptakan kondisi miometrium yang tidak responsif terhadap rangsangan kontraksi, termasuk terhadap uterotonik, terutama pada fase awal postpartum.

Secara patofisiologis, eklampsia menciptakan suatu lingkungan biologis yang secara intrinsik mendukung terjadinya atonia uteri. Disfungsi endotel, vasospasme, hipoperfusi miometrium, hipoksia jaringan, serta gangguan inflamasi dan koagulasi telah menurunkan kapasitas kontraksi uterus bahkan sebelum intervensi pembedahan dan anestesi dilakukan. Oleh karena itu, pada pasien eklampsia yang menjalani sectio caesarea, atonia uteri tidak semata-mata merupakan komplikasi pascapersalinan, melainkan manifestasi lanjutan dari gangguan sistemik yang telah berlangsung sebelumnya.

Konsekuensi Klinis Atonia Uteri

Atonia uteri umumnya terjadi segera setelah plasenta lahir, ketika uterus seharusnya berkontraksi dan beretraksi untuk menutup pembuluh darah spiral di tempat implantasi plasenta. Pada fase ini, kegagalan kontraksi uterus akan langsung bermakna secara klinis karena mekanisme hemostasis fisiologis tidak terbentuk. Kondisi ini sering kali bersifat akut dan dapat berkembang dengan cepat menjadi perdarahan postpartum masif.

Sebagian besar kasus atonia uteri muncul dalam 24 jam pertama postpartum, yang dikenal sebagai perdarahan postpartum primer. Periode ini merupakan fase kritis, terutama pada pasien dengan eklampsia, karena cadangan fisiologis ibu sudah terganggu oleh kondisi sistemik penyakit. Dibandingkan persalinan pervaginam, atonia uteri dilaporkan lebih sering terjadi pada persalinan dengan sectio caesarea, akibat kombinasi trauma pembedahan uterus, gangguan retraksi miometrium, serta pengaruh teknik anestesi yang digunakan selama operasi.

Konsekuensi utama dari atonia uteri adalah perdarahan postpartum masif, yang dapat berlangsung cepat dan sulit dikendalikan bila tidak ditangani secara agresif. Kehilangan darah dalam jumlah besar dalam waktu singkat dapat menyebabkan syok hipovolemik, ditandai oleh hipotensi, takikardia, penurunan perfusi jaringan, dan gangguan kesadaran. Pada pasien eklampsia, kondisi ini sering diperberat oleh gangguan regulasi vaskular dan respons kompensasi kardiovaskular yang tidak optimal.

Perdarahan yang berlanjut dapat memicu koagulopati konsumtif, baik akibat kehilangan faktor koagulasi maupun aktivasi sistem koagulasi yang berlebihan. Koagulopati ini selanjutnya memperparah perdarahan dan menciptakan lingkaran setan antara perdarahan dan gangguan hemostasis. Dalam kondisi demikian, pasien sering memerlukan transfusi darah dan produk darah dalam jumlah besar, termasuk sel darah merah, plasma segar beku, dan trombosit, yang membawa risiko komplikasi tambahan.

Pada kasus atonia uteri yang refrakter terhadap terapi medikamentosa dan intervensi konservatif, histerektomi emergensi dapat menjadi satu-satunya tindakan penyelamatan nyawa. Tindakan ini memiliki implikasi besar terhadap morbiditas jangka panjang, kehilangan fungsi reproduksi, serta dampak psikologis bagi pasien. Oleh karena itu, pencegahan dan deteksi dini atonia uteri, terutama pada pasien eklampsia yang menjalani sectio caesarea, merupakan aspek krusial dalam upaya menurunkan angka morbiditas dan mortalitas maternal.

Korelasi Eklampsia, SC, dan Atonia Uteri

Terjadinya atonia uteri pada pasien eklampsia yang menjalani sectio caesarea merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor penyakit, tindakan pembedahan, dan teknik anestesi. Ketiga komponen ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling memperkuat dan membentuk kondisi risiko tinggi yang bersifat aditif bahkan sinergistik terhadap kegagalan kontraksi uterus pascapersalinan.

Kontribusi Eklampsia sebagai Faktor Predisposisi

Eklampsia berperan sebagai faktor dasar yang menciptakan lingkungan biologis tidak menguntungkan bagi kontraktilitas uterus. Disfungsi endotel sistemik menyebabkan vasospasme dan gangguan mikrosirkulasi, termasuk pada arteri uterina, yang berujung pada hipoperfusi dan hipoksia miometrium. Kondisi ini menurunkan cadangan energi sel otot polos uterus serta mengganggu mekanisme kontraksi dan retraksi yang esensial untuk hemostasis postpartum. Dengan demikian, pada pasien eklampsia, uterus telah berada dalam keadaan “rentan” terhadap terjadinya atonia bahkan sebelum proses persalinan atau pembedahan dimulai.

Peran Sectio caesarea dalam Memperberat Risiko

Tindakan sectio caesarea sendiri merupakan faktor risiko independen terjadinya atonia uteri. Trauma bedah pada dinding uterus, manipulasi intraoperatif, serta insisi miometrium dapat mengganggu integritas dan koordinasi kontraksi uterus pascapersalinan. Selain itu, pada persalinan melalui SC, mekanisme retraksi fisiologis uterus tidak terjadi secara alami sebagaimana pada persalinan pervaginam, sehingga kemampuan uterus untuk menutup pembuluh darah spiral sangat bergantung pada kontraksi miometrium yang adekuat. Pada uterus yang telah mengalami gangguan perfusi akibat eklampsia, efek trauma bedah ini menjadi lebih signifikan.

Pengaruh Anestesi Umum terhadap Tonus Uterus

Penggunaan anestesi umum, khususnya dengan agen anestesi volatil, memberikan kontribusi tambahan terhadap risiko atonia uteri. Agen volatil diketahui memiliki efek relaksan langsung terhadap otot polos uterus melalui penurunan influx kalsium intraseluler dan gangguan mekanisme kontraksi miometrium secara dosis-dependent. Meskipun pelumpuh otot terutama bekerja pada otot rangka, relaksasi dinding abdomen dan penurunan tonus otot secara umum dapat mengurangi tekanan eksternal terhadap uterus, sehingga memperburuk kegagalan retraksi pascapersalinan. Pada pasien eklampsia yang menjalani SC, efek farmakologis anestesi umum ini dapat menjadi pemicu akhir terjadinya atonia uteri.

Sintesis Risiko dan Implikasi Klinis

Secara keseluruhan, eklamsia, sectio caesarea, dan anestesi umum membentuk suatu kombinasi faktor risiko yang bersifat aditif dan sinergistik dalam meningkatkan kejadian atonia uteri. Eklampsia menurunkan kapasitas fisiologis miometrium, sectio caesarea menambah beban trauma dan gangguan retraksi, sementara anestesi umum—khususnya agen volatil—dapat menekan kontraktilitas uterus secara langsung. Kombinasi ini menjelaskan mengapa atonia uteri pada pasien eklampsia yang menjalani SC dengan anestesi umum sering kali bersifat lebih berat, refrakter terhadap terapi standar, dan berujung pada perdarahan postpartum masif.

Pilihan Teknik Anestesi antara GETA dengan Regional

Pemilihan teknik anestesi pada pasien eklampsia yang menjalani sectio caesarea merupakan keputusan klinis yang kompleks dan harus mempertimbangkan kondisi maternal, status janin, urgensi tindakan, serta potensi komplikasi intraoperatif dan pascapersalinan. Dua teknik utama yang digunakan adalah anestesi regional (spinal atau epidural) dan General endotracheal tube anesthesia (GETA), masing-masing dengan keunggulan dan keterbatasan tersendiri.

Anestesi Regional (Spinal/Epidural)

Anestesi regional secara umum dianggap sebagai teknik pilihan pada sectio caesarea karena memberikan keuntungan fisiologis yang signifikan. Salah satu keunggulan utama anestesi regional adalah tidak menurunkan kontraktilitas uterus secara langsung, sehingga mekanisme kontraksi dan retraksi miometrium pascapersalinan relatif lebih terjaga. Selain itu, anestesi regional dapat menurunkan respons stres bedah, mengurangi pelepasan katekolamin, serta memberikan kontrol nyeri yang baik tanpa efek sistemik luas.

Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan anestesi regional berhubungan dengan outcome perdarahan yang lebih baik, termasuk penurunan kebutuhan transfusi darah dibandingkan anestesi umum. Hal ini menjadi pertimbangan penting pada pasien dengan risiko tinggi perdarahan postpartum, seperti pada eklampsia.

Namun demikian, pada pasien eklampsia, anestesi regional memiliki keterbatasan yang bermakna. Koagulopati dan trombositopenia, yang sering menyertai eklampsia, merupakan kontraindikasi relatif atau absolut terhadap teknik neuraksial karena risiko hematoma spinal. Selain itu, penurunan kesadaran atau kejang aktif membuat anestesi regional sulit atau tidak aman untuk dilakukan. Kondisi distres janin akut atau kebutuhan terminasi kehamilan secara sangat cepat juga dapat membatasi penggunaan anestesi regional karena waktu onset yang dianggap kurang memadai dalam situasi emergensi tertentu.

General endotracheal tube anesthesia (GETA)

General endotracheal tube anesthesia (GETA) sering kali menjadi teknik anestesi pilihan atau keharusan pada pasien eklampsia dengan kondisi klinis tertentu. Indikasi utama penggunaan GETA meliputi kejang aktif, penurunan tingkat kesadaran (GCS rendah), kegagalan atau kontraindikasi anestesi regional, serta kebutuhan terminasi kehamilan secara emergensi untuk menyelamatkan ibu dan/atau janin.

Keunggulan utama GETA terletak pada kemampuannya untuk memberikan kontrol jalan napas yang optimal, stabilisasi ventilasi dan oksigenasi, serta memungkinkan pelaksanaan pembedahan secara cepat dan terkontrol. Pada pasien eklampsia dengan risiko aspirasi tinggi dan gangguan neurologis, kontrol jalan napas melalui intubasi endotrakeal merupakan aspek keselamatan yang sangat penting.

Namun, GETA memiliki implikasi fisiologis yang perlu diwaspadai, terutama terkait penggunaan agen anestesi volatil yang dapat menurunkan tonus dan kontraktilitas uterus secara dosis-dependent. Efek ini menjadi sangat relevan pada pasien eklampsia yang telah memiliki gangguan perfusi miometrium, sehingga penggunaan GETA dapat memperbesar risiko terjadinya atonia uteri dan perdarahan postpartum bila tidak dikelola secara hati-hati.

Sintesis Klinis

Secara klinis, anestesi regional tetap merupakan pilihan ideal pada pasien eklampsia yang stabil dan memenuhi kriteria keamanan neuraksial. Namun, dalam praktik sehari-hari, GETA sering kali tidak dapat dihindari pada eklampsia dengan kegawatan neurologis atau obstetri. Oleh karena itu, pemilihan teknik anestesi harus bersifat individual, berbasis kondisi klinis aktual, dan disertai strategi anestesi yang tepat untuk meminimalkan risiko atonia uteri dan perdarahan postpartum.

Mekanisme GETA terhadap Tonus Uterus

Pengaruh GETA terhadap tonus uterus terutama dimediasi oleh obat-obat anestesi yang digunakan selama anestesi umum, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dua kelompok obat utama yang berperan adalah Neuromuscular blocking agents (NMBA) dan agen anestesi volatil.

Pelumpuh Otot (Neuromuscular Blocking Agents)

Neuromuscular blocking agents bekerja dengan cara menghambat transmisi neuromuskular pada reseptor nikotinik di junction neuromuskular, sehingga menghambat kontraksi otot rangka. Secara farmakologis, obat-obat ini tidak bekerja langsung pada otot polos, termasuk otot polos uterus, karena kontraksi miometrium tidak bergantung pada sistem neuromuskular somatik.

Oleh karena itu, secara langsung NMBA tidak menyebabkan relaksasi miometrium dan bukan penyebab utama atonia uteri. Namun demikian, terdapat efek tidak langsung yang relevan secara klinis. Relaksasi otot rangka dinding abdomen dan dasar panggul dapat menurunkan tekanan eksternal terhadap uterus, sehingga mengurangi dukungan mekanis terhadap proses retraksi uterus pascapersalinan. Pada kondisi miometrium yang telah mengalami gangguan perfusi dan hipoksia akibat eklampsia, efek tidak langsung ini dapat memperberat kegagalan retraksi uterus.

Dengan demikian, meskipun NMBA bukan faktor utama, perannya tidak dapat diabaikan sepenuhnya dalam konteks pasien berisiko tinggi terhadap atonia uteri.

Agen Anestesi Volatil

Agen anestesi volatil merupakan faktor anestesi paling signifikan yang berkontribusi terhadap penurunan tonus uterus selama GETA. Isoflurane, sevoflurane, dan desflurane diketahui memiliki efek relaksan langsung terhadap miometrium melalui beberapa mekanisme utama.

Secara seluler, agen volatil menurunkan influx ion kalsium (Ca²) ke dalam sel otot polos miometrium, yang merupakan elemen kunci dalam proses kontraksi uterus. Penurunan ketersediaan Ca² intraseluler menyebabkan gangguan aktivasi kompleks aktinmiosin, sehingga kontraksi uterus menjadi lemah dan tidak efektif. Efek ini bersifat dosis-dependent, di mana peningkatan konsentrasi agen volatil akan semakin menekan kontraktilitas miometrium.

Selain itu, agen volatil juga memengaruhi regulasi kanal ion dan sensitivitas miometrium terhadap uterotonik, sehingga respons uterus terhadap oksitosin dapat menjadi kurang optimal. Pada pasien eklampsia yang telah mengalami hipoksia miometrium dan disfungsi endotel, efek relaksan agen volatil ini menjadi lebih bermakna secara klinis dan dapat memicu terjadinya atonia uteri.

Nitrous oxide secara umum memiliki efek minimal terhadap kontraktilitas uterus, namun bila digunakan dalam kombinasi dengan agen volatil lain, efek relaksasi miometrium dapat bersifat aditif. Oleh karena itu, meskipun kontribusinya lebih kecil, penggunaannya tetap perlu dipertimbangkan secara rasional pada pasien dengan risiko tinggi perdarahan postpartum.

Sintesis Mekanisme

Secara keseluruhan, penurunan tonus uterus pada GETA bukan terutama disebabkan oleh pelumpuh otot, melainkan oleh efek langsung agen anestesi volatil terhadap miometrium. Neuromuscular blocking agents hanya berperan secara tidak langsung melalui penurunan dukungan mekanis terhadap retraksi uterus. Pada pasien eklampsia yang menjalani sectio caesarea, penggunaan agen volatil dengan konsentrasi tinggi atau durasi lama dapat menjadi pemicu utama terjadinya atonia uteri, sehingga strategi anestesi harus diarahkan pada minimalisasi dosis volatil dan optimalisasi kontraktilitas uterus pascapersalinan.

Faktor GETA pada SC yang Mendukung Atonia Uteri

Terjadinya atonia uteri pada pasien yang menjalani sectio caesarea dengan anestesi umum tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi dasar pasien, tetapi juga oleh faktor-faktor intraoperatif yang berkaitan langsung dengan teknik dan manajemen anestesi. Beberapa faktor berikut berperan penting dalam menurunkan kontraktilitas miometrium dan meningkatkan risiko perdarahan postpartum.

Konsentrasi Agen Anestesi Volatil yang Tinggi

Penggunaan agen anestesi volatil dengan konsentrasi tinggi merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan tonus uterus. Agen volatil menekan kontraktilitas miometrium secara dosis-dependent melalui penurunan influx ion kalsium dan gangguan aktivasi aktin–miosin. Pada pasien eklampsia, yang telah mengalami hipoksia dan disfungsi miometrium, efek ini menjadi lebih nyata dan dapat memicu atonia uteri segera setelah persalinan.

Waktu Anestesi yang Panjang

Durasi anestesi yang panjang memperpanjang paparan miometrium terhadap agen anestesi volatil dan memperbesar efek relaksasi uterus. Selain itu, waktu anestesi yang lama sering kali berkaitan dengan tindakan pembedahan yang lebih kompleks, peningkatan kehilangan darah, dan kelelahan miometrium, yang semuanya berkontribusi terhadap kegagalan kontraksi uterus pascapersalinan.

Hipotensi Intraoperatif

Hipotensi selama operasi dapat memperburuk hipoperfusi miometrium, sehingga menurunkan suplai oksigen dan nutrien ke sel otot polos uterus. Pada pasien eklampsia, di mana regulasi vaskular telah terganggu, hipotensi intraoperatif dapat dengan cepat menyebabkan penurunan kemampuan kontraksi miometrium dan meningkatkan risiko atonia uteri.

Overload Cairan Kristaloid

Pemberian cairan kristaloid dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan hemodilusi dan edema jaringan, termasuk pada miometrium. Edema miometrium mengganggu interaksi aktin–miosin serta menurunkan respons uterus terhadap uterotonik. Selain itu, overload cairan juga meningkatkan risiko edema paru, yang sangat berbahaya pada pasien eklampsia.

Hipotermia

Hipotermia intraoperatif dapat menurunkan aktivitas enzimatik dan memperburuk gangguan koagulasi. Pada tingkat miometrium, suhu tubuh yang rendah dapat menurunkan kontraktilitas otot polos dan memperlambat respons terhadap uterotonik. Hipotermia juga meningkatkan risiko perdarahan melalui mekanisme koagulopati.

Asidosis Metabolik

Asidosis metabolik, yang dapat terjadi akibat hipoperfusi jaringan atau perdarahan masif, menurunkan sensitivitas miometrium terhadap ion kalsium dan uterotonik. Kondisi ini memperburuk kegagalan kontraksi uterus dan sering kali menjadi penanda keparahan perdarahan postpartum yang sedang berlangsung.

Tidak Optimalnya Pemberian Uterotonik Dini

Keterlambatan atau ketidaktepatan pemberian uterotonik setelah lahirnya plasenta merupakan faktor penting yang dapat mempercepat terjadinya atonia uteri. Pada pasien eklampsia yang menjalani SC dengan GETA, pemberian uterotonik dini dan adekuat sangat krusial untuk mengimbangi efek relaksan agen anestesi volatil dan memulihkan kontraktilitas miometrium.

Sintesis Klinis

Faktor-faktor intraoperatif yang berkaitan dengan GETA bersifat modifiable risk factors yang dapat dikendalikan melalui strategi anestesi yang tepat. Pengendalian dosis agen volatil, stabilisasi hemodinamik, manajemen cairan yang ketat, pencegahan hipotermia, koreksi asidosis, serta pemberian uterotonik dini merupakan langkah-langkah kunci untuk menurunkan risiko atonia uteri pada pasien eklampsia yang menjalani sectio caesarea dengan anestesi umum.

Teknik Anestesi Umum yang Tepat pada SC Eklampsia

Pelaksanaan anestesi umum pada pasien eklampsia yang menjalani sectio caesarea memerlukan pendekatan yang presisi dan terencana dengan baik. Tujuan utama anestesi bukan hanya menjamin keamanan jalan napas dan kelancaran pembedahan, tetapi juga meminimalkan risiko atonia uteri dan perdarahan postpartum yang dapat mengancam nyawa. Oleh karena itu, strategi anestesi harus disusun berdasarkan pemahaman mendalam terhadap patofisiologi eklampsia dan efek farmakologis obat anestesi terhadap miometrium.

Prinsip Umum

Prinsip dasar anestesi umum pada SC pasien eklampsia adalah penerapan balanced anesthesia, yaitu penggunaan kombinasi obat anestesi dengan mekanisme kerja yang saling melengkapi untuk mencapai kedalaman anestesi yang adekuat tanpa ketergantungan berlebihan pada satu agen tertentu. Pendekatan ini memungkinkan minimalisasi penggunaan agen anestesi volatil, yang diketahui memiliki efek relaksan langsung terhadap miometrium, sekaligus menjaga stabilitas hemodinamik.

Selain itu, strategi anestesi harus diarahkan pada optimalisasi kontraktilitas uterus pascapersalinan, dengan menghindari faktor-faktor yang memperburuk hipoperfusi miometrium, hipoksia jaringan, dan gangguan respons uterus terhadap uterotonik.

Strategi Praktis Anestesi Umum

1.        Rapid Sequence Induction (RSI)

Rapid sequence induction merupakan teknik induksi yang dianjurkan pada pasien eklampsia karena risiko aspirasi yang tinggi, gangguan kesadaran, dan kebutuhan terminasi kehamilan yang cepat. RSI memungkinkan kontrol jalan napas yang aman sekaligus meminimalkan fluktuasi hemodinamik yang dapat memperburuk kondisi maternal.

2.       Minimalisasi Dosis Agen Volatil dan Transisi ke TIVA

Selama fase awal operasi hingga bayi lahir, agen volatil digunakan pada dosis serendah mungkin untuk mempertahankan anestesi. Setelah bayi lahir dan tali pusat diklem, anestesi sebaiknya dialihkan ke total intravenous anesthesia (TIVA) untuk mengurangi efek relaksan miometrium dari agen volatil dan menurunkan risiko atonia uteri.

3.       Kombinasi dengan Opioid Short-Acting Setelah Bayi Lahir

Pemberian opioid kerja pendek setelah lahirnya bayi membantu mencapai kedalaman anestesi yang adekuat tanpa perlu meningkatkan konsentrasi agen volatil. Pendekatan ini berkontribusi pada stabilitas hemodinamik sekaligus mendukung pemulihan tonus uterus.

4.       Koreksi Hipotensi Secara Cepat dan Tepat

Hipotensi intraoperatif harus segera dikoreksi untuk mencegah hipoperfusi miometrium. Strategi ini mencakup penggunaan vasopresor secara rasional dan manajemen cairan yang ketat, mengingat pasien eklampsia rentan terhadap overload cairan dan edema paru.

5.       Pemberian Uterotonik Segera Setelah Plasenta Lahir

Uterotonik harus diberikan segera dan adekuat setelah plasenta lahir sebagai langkah preventif utama terhadap atonia uteri. Pemberian dini ini sangat penting untuk mengimbangi efek relaksan residu dari anestesi umum dan memulihkan mekanisme hemostasis fisiologis uterus.

6.       Monitoring Ketat Perdarahan dan Koagulasi

Selama dan setelah operasi, diperlukan monitoring ketat terhadap jumlah perdarahan, status hemodinamik, dan parameter koagulasi. Deteksi dini perdarahan berlebihan memungkinkan intervensi cepat sebelum berkembang menjadi syok hipovolemik atau koagulopati konsumtif.

Anestesi umum pada SC pasien eklampsia tidak boleh dilakukan dengan pendekatan rutin. Strategi anestesi harus bersifat protektif terhadap uterus, dengan fokus pada minimalisasi efek relaksan miometrium, stabilisasi hemodinamik, dan pencegahan perdarahan postpartum. Penerapan balanced anesthesia, penggunaan agen volatil secara rasional, serta koordinasi yang baik antara tim anestesi dan obstetri merupakan kunci untuk menurunkan risiko atonia uteri dan meningkatkan keselamatan maternal.

Kesimpulan

Eklampsia merupakan kondisi sistemik berat yang melalui mekanisme disfungsi endotel, vasospasme, dan hipoperfusi miometrium secara patofisiologis meningkatkan risiko terjadinya atonia uteri. Risiko tersebut semakin diperberat oleh tindakan sectio caesarea yang melibatkan trauma pembedahan uterus serta oleh penggunaan General endotracheal tube anesthesia (GETA), terutama melalui efek relaksan agen anestesi volatil terhadap kontraktilitas miometrium yang bersifat dosis-dependent.

Meskipun demikian, GETA bukan merupakan kontraindikasi mutlak pada pasien eklampsia, terutama pada kondisi kegawatan neurologis atau obstetri yang tidak memungkinkan anestesi regional. Kunci pencegahan atonia uteri dan perdarahan postpartum terletak pada pendekatan anestesi yang presisi, berbasis pemahaman patofisiologi, dengan minimalisasi agen volatil, stabilisasi hemodinamik, pemberian uterotonik dini, serta pemantauan ketat perdarahan dan koagulasi.

Pendekatan yang terencana dan kolaboratif antara anestesiolog dan obstetrisi sangat menentukan keberhasilan tata laksana pasien eklampsia yang menjalani sectio caesarea, sekaligus menjadi upaya strategis untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas maternal akibat perdarahan postpartum.

Literasi;

  1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill Education; 2022.
  2. Chestnut DH, Wong CA, Tsen LC, Ngan Kee WD, Beilin Y, Mhyre JM. Chestnut’s Obstetric Anesthesia: Principles and Practice. 6th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.
  3. Miller RD, Cohen NH, Eriksson LI, Fleisher LA, Wiener-Kronish JP, Young WL. Miller’s Anesthesia. 9th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.
  4. Datta S, Kodali BS, Segal S. Anesthesia for Obstetrics. 5th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2010.
  5. Dyer RA, Butwick AJ. Anaesthesia for caesarean delivery in women with pre-eclampsia and eclampsia. Br J Anaesth. 2017;119(suppl_1):i83–i94.
  6. Balki M, Windrim R. Uterine atony after cesarean delivery: anesthetic considerations. Int J Obstet Anesth. 2019;38:65–74.
  7. Hood DD, Dewan DM. Anesthetic and obstetric outcome in eclampsia. Anesthesiology. 1993;78(6):1108–1113.
  8. Magann EF, Evans S, Hutchinson M, Collins R, Howard BC, Morrison JC. Postpartum hemorrhage after cesarean delivery: an analysis of risk factors. South Med J. 2005;98(7):681–685.
  9. World Health Organization. WHO recommendations for the prevention and treatment of postpartum haemorrhage. Geneva: World Health Organization; 2012.
  10. Sibai BM. Diagnosis, prevention, and management of eclampsia. Obstet Gynecol. 2005;105(2):402–410.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEDOMAN ANESTESI DAN PEDIATRIK

PEDOMAN ANESTESI DAN PEDIATRIK 1.     Pendahuluan Penatalaksanaan anestesi pada kelompok pediatri mempunyai aspek psikologi, anatomi, farmakologi, fisiologi dan patologi yang berbeda dengan orang dewasa. Pemahaman atas perbedaan ini merupakan dasar penatalaksanaan anestesi pediatri yang efektif dan aman. Pendekatan psikologis merupakan faktor penting yang berdampak pada luaran anestesi pediatri. Sesuai perkembangannya, kelompok pediatri dibagi dalam kelompok usia neonatus yang lahir kurang bulan dan cukup bulan, bayi usia diatas 1 bulan sampai usia dibawah 1 tahun, anak usia prasekolah usia diatas 1 tahun sampai usia 5 tahun, anak usia sekolah usia 6 tahun sampai 12 tahun dan usia remaja 13 tahun sampai 18 tahun. Neonatus merupakan kelompok yang mempunyai risiko paling tinggi jika dilakukan pembedahan dan anestesi. Patologi yang memerlukan pembedahan berbeda tergantung kelompok usia, neonatus dan bayi memerlukan pembedahan untuk kelainan bawaan sedangkan remaja m...

INFO KOS DI AJIBARANG

  KOS-KOSAN DI AJIBARANG Ingin mendapatkan tempat kos yang menyenangkan ?, Indi’s Kos menyediakan sebuah tempat hunian kos yang menyenangkan, dengan type kamar : Kamar mandi dalam, AC, lemari, spring bed 140 x 200, sprei, bantal dan guling, sebanyak 2 kamar Kamar mandi luar (dalam rumah 2 buah) : springbed 120 x 200, sprei, bantal guling, sebanyak 5 kamar Kamar : bersih Lokasi :  jalan Pramuka no 30, Ajibarang Kulon, Belakang kecamatan Ajibarang. Strategis : Tenang, dekat keramaian dan makanan, tempat parkir luas Bila memerlukan informasi bisa hubungi : Bapak Warsoon : 085292364268 Ruang santai, ruang bersama Kamar Mandi dalam Kamar Kamar Mandi Luar kamar /dalam rumah Kamar Mandi dalam Kamar Kamar Bukan Ber AC Kamar Ber AC

Mengapa Aku Menjadi Seorang Dokter Anestesi

MENGAPA AKU MENJADI SEORANG DOKTER ANESTESI (Sebuah Titik Balik Kehidupan) Sekarang walaupun belum dapat kuraih semuanya, tetapi aku mulai bisa tersenyum mengenang akan masa laluku. Kini aku telah menjadi seorang dokter dan telah mendapatkan spesialisasi dalam jenjang pendidikan di bidang anestesiologi alias pendalaman dalam ilmu pembiusan dan penanganan pasien kegawatdaruratan di ruang intensif (ICU). Memang sih, masih banyak yang belum bisa aku raih tetapi setidaknya kini aku dapat tersenyum dengan kehidupanku sekarang. Aku terlahir disebuah desa kecil dengan kultur budaya pendidikan yang   tidak   menunjang, jangankan bermimpi untuk menjadi seorang dokter, untuk sekolah sampai jenjang menengah pertama dan atas saja masih menjadi barang yang langka. Untung aku terlahir mempunyai seorang bapak yang memang berorientasi pada pendidikan, walaupun susah dari sisi ekonomi untuk menjalaninya. Bapakku merupakan seorang pendidik yang berhenti entah mengapa, karena jaman at...