Langsung ke konten utama

Postingan

CERPEN - AKREDITASI? TELUSUR STANDAR 1 DAN 2 PMKP

Postingan terbaru

AKREDITASI? TELUSUR PMKP

  AKREDITASI? TELUSUR PMKP Oleh; Igun Winarno Pagi itu Rumah Sakit D amar Husada tampak berbeda dari biasanya. Lorong-lorong rumah sakit terlihat lebih rapi, para staf berjalan lebih sigap, dan hampir semua SDM tampak mempersiapkan diri dengan serius. Suasananya seperti rumah sakit sedang memiliki hajatan besar. Setelah ditelusuri, ternyata hari itu adalah pelaksanaan bimbingan survei akreditasi rumah sakit. Akreditasi menjadi sesuatu yang penting bagi rumah sakit, karena menjadi salah satu tolok ukur apakah pelayanan rumah sakit benar-benar berkualitas, mengutamakan mutu, dan mampu menjaga keselamatan pasien atau tidak. Semua unit tampak sibuk dengan tugas masing-masing, termasuk Pokja PMKP yang sejak pagi sudah terlihat mondar-mandir mempersiapkan berbagai dokumen dan data. Di sudut ruang rapat, Uun tampak gelisah. Wajahnya terlihat tegang sambil membuka beberapa map dokumen di hadapannya. “Kenapa, Mbak? Kok kelihatannya cemas sekali?” tanya Ndari, temannya, dengan nad...

ASTAGHFIRULLAH

  ASTAGHFIRULLAH Manusia adalah tempat salah dan lupa. Dalam perjalanan hidup yang panjang, ada begitu banyak dosa yang sengaja maupun tidak sengaja kita lakukan—dari ucapan yang melukai, sikap yang menyakiti, niat yang tercampur riya, hingga lintasan hati yang kadang jauh dari mengingat Allah. Karena itulah, sungguh tidak pantas jika ada manusia yang merasa dirinya paling bersih dari kesalahan. Kita semua menyimpan kekurangan, hanya saja Allah dengan sifat-Nya sebagai Al-Q haffar adalah Dzat Yang Maha Mengampuni dan Maha Menutupi aib hamba-Nya. Betapa banyak kesalahan kita yang seharusnya bisa Allah tampakkan di hadapan manusia, namun Dia memilih menutupinya. Jika Allah berkehendak membuka seluruh aib kita, mungkin rasa malu akan membuat kita sulit menatap dunia. Maka kesadaran bahwa Allah masih menutup keburukan kita seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan kesombongan. Kalimat “Astaghfirullah” berarti, “Aku memohon ampun kepada Allah.” Kalimat ini seharusnya tidak berhe...

Syukur sebagai Jalan Keselamatan, Kufur sebagai Awal Kehancuran

  Syukur sebagai Jalan Keselamatan, Kufur sebagai Awal Kehancuran   Bismillahirrahmanirrahim… alhamdulillah!! Dalam perjalanan hidup yang sering kita anggap sebagai hasil usaha dan kemampuan diri, sejatinya kita sedang berjalan di bawah naungan sifat-sifat agung Allah yang termaktub dalam Asmaul Husna . Kita bernafas karena Allah adalah Ar-Rahman (Maha Pengasih), kita diberi rezeki karena Dia Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), dan kesalahan kita masih ditutupi karena Dia Al-Ghaffar (Maha Pengampun). Bahkan kemampuan kita untuk berbuat baik dan menolong sesama tidak lepas dari pertolongan-Nya sebagai Al-Mu’in (Maha Penolong). Syukur Sebagai Kenikmatan Maka bersyukur sejatinya adalah bentuk pengenalan (makrifat) terhadap Allah melalui nama-nama-Nya—bahwa setiap nikmat yang kita rasakan adalah manifestasi dari sifat-Nya yang sempurna. Tanpa kesadaran ini, manusia mudah terjebak dalam ilusi bahwa semua berasal dari dirinya, padahal setiap detik kehidupan adalah cermin d...

Sebuah cerpen “DI HARI KELIMA LEBARAN, AKU MENEMUKAN RINDU YANG TERTINGGAL DI RUMAH MAMAKE”

  Sebuah cerpen “DI HARI KELIMA LEBARAN, AKU MENEMUKAN RINDU YANG TERTINGGAL DI RUMAH MAMAKE”   Hari kelima setelah lebaran, ketika sebagian orang perlahan beranjak dari riuh silaturahmi dan kembali menuju hiruk pikuk dunia nyata, pagi ini aku justru memilih sunyi. Malam sebelumnya, aku duduk dalam tahajudku—lama, lebih lama dari biasanya. Sujud terasa berbeda. Ada getar yang tak biasa, seolah hati sedang disentuh oleh sesuatu yang tak kasat. Doa-doa mengalir, bukan sekadar rangkaian kata, melainkan seperti yang ditarik pelan dari kedalaman jiwa yang paling sunyi. Aku berdoa banyak malam itu. Tentang hidup. Tentang waktu. Tentang orang-orang yang diam-diam menjadi alasan aku tetap kuat. Entah kenapa, di antara sekian banyak yang ku sebut dalam doa, satu nama berulang kali muncul, seperti gema yang tak mau hilang , m amake. Sejak kemarin, rindu itu datang tanpa aba-aba. Tidak keras, tidak juga menghentak. Ia datang perlahan, tapi menetap. Mengisi ruang-ruang kosong...