KETIKA
RAMADHAN MENGAJARKAN KITA MEMAHAMI PERBEDAAN
by Igun Winarno
Setiap tahun, bulan Ramadhan
kembali datang membawa suasana yang hampir selalu sama: rindu, harap, dan
pembelajaran. Di bulan yang penuh berkah ini, umat Islam di seluruh dunia
menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan. Bukan sekadar menahan lapar dan
dahaga, tetapi juga melatih hati, menata niat, dan membersihkan jiwa.
Harapannya, setelah Ramadhan berlalu, lahirlah pribadi yang lebih bertakwa,
hati yang lebih lembut, serta jiwa yang semakin pandai bersyukur atas setiap
nikmat yang Allah berikan.
Namun, ada satu hal yang hampir
selalu hadir dalam perjalanan Ramadhan dari tahun ke tahun, terutama dalam
beberapa waktu terakhir: perbedaan dalam menentukan awal dan akhir puasa.
Sebagai seorang umat, saya
pribadi meyakini bahwa perbedaan ini merupakan bagian dari sunatullah, sesuatu
yang memang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Perbedaan adalah realitas
yang tidak bisa sepenuhnya dihindari. Ia hadir dalam banyak aspek kehidupan,
termasuk dalam cara manusia memahami tanda-tanda waktu yang berkaitan dengan
ibadah.
Dalam hal ini, para ulama dan
para pemimpin umat berusaha dengan ilmu dan ijtihad mereka untuk menentukan
mana yang paling mendekati kebenaran. Sementara bagi kita sebagai umat, yang
terpenting adalah menjalankan ibadah dengan niat yang tulus serta tetap menjaga
persaudaraan di tengah perbedaan yang ada.
Meskipun demikian, harus diakui
bahwa di dalam hati kadang muncul rasa yang sedikit miris. Ada pertanyaan kecil
yang sesekali terlintas: mengapa dalam
hal yang berkaitan dengan ibadah—yang di dalamnya terdapat kewajiban berpuasa
pada 1 Ramadhan dan larangan berpuasa pada 1 Syawal—kita tidak selalu bisa
berada pada tanggal yang sama?
Pertanyaan itu mungkin tidak
hanya muncul dalam hati saya. Banyak di antara kita mungkin pernah merasakan
hal yang sama. Sebuah kegelisahan kecil yang lahir bukan karena ingin
memperdebatkan perbedaan, tetapi justru karena adanya kerinduan akan
kebersamaan umat dalam menjalankan ibadah yang begitu agung ini.
Namun di situlah kita belajar
satu hal penting dalam perjalanan iman: bahwa dalam kehidupan manusia, perbedaan
sering kali menjadi bagian dari proses memahami kebenaran. Semakin kita belajar
memahami kehidupan, semakin kita menyadari bahwa tidak semua perbedaan harus
menjadi sumber kegelisahan. Dalam banyak hal, perbedaan justru menunjukkan
bahwa manusia memiliki cara pandang, metode, dan pendekatan yang berbeda dalam
memahami sesuatu. Karena itu, yang lebih utama dari semuanya adalah bagaimana
kita tetap menjaga keikhlasan dalam beribadah serta menjaga hati agar tetap
lapang terhadap sesama.
Yang terpenting adalah bahwa
semua itu dilakukan dengan niat yang sama: menjalankan perintah Allah sebaik mungkin.
Sebagai umat, tugas kita
sebenarnya cukup sederhana. Kita menjalankan apa yang telah diputuskan oleh
para ulama dan pemimpin kita. Mereka telah berusaha dengan ilmu, kajian, dan
ijtihad untuk menentukan mana yang paling mendekati kebenaran.
Di sinilah kita belajar tentang
sebuah sikap penting dalam kehidupan beragama, kerendahan hati.
Tidak semua hal harus kita pahami
sepenuhnya, dan tidak semua perbedaan harus kita perdebatkan. Terkadang yang
lebih penting adalah menjaga hati tetap tenang serta merawat persaudaraan di
antara kita.
Dalam keyakinan kita sebagai
orang beriman, Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Dia adalah Al-Ghofur,
Yang Maha Mengampuni; Ar-Rahman, Yang Maha Pengasih; dan
Ar-Rahim,
Yang Maha Penyayang. Dengan kasih sayang-Nya yang begitu luas, kita berharap
dan meyakini bahwa Allah akan mengampuni segala kekhilafan dan kesalahan kita.
Ada sebuah penggalan doa dalam
Al-Qur’an yang sering kita baca dan terasa begitu menenangkan. Doa ini juga
pernah dikaji dengan sangat indah oleh Gus Baha:
“Rabbanaa laa
tu’akhidznaa in nasiinaa aw akhtha’naa.”
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
menghukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.” (QS.
Al-Baqarah: 286)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa
manusia memang tidak pernah lepas dari kemungkinan lupa dan salah. Keterbatasan
adalah bagian dari sifat manusia yang diciptakan oleh Allah.
Yang lebih menenangkan lagi,
dalam berbagai penjelasan para ulama disebutkan bahwa Allah telah mengabulkan
doa ini. Bahkan dalam kasih sayang-Nya yang begitu luas, Allah telah memberikan
ampunan atas kesalahan yang terjadi karena kelupaan atau kekhilafan manusia.
Artinya, ketika seorang hamba
melakukan kesalahan karena ketidaktahuan atau kekeliruan, Allah Yang Maha
Pengampun tetap membuka pintu maaf-Nya. Rahmat-Nya selalu lebih luas daripada
kesalahan manusia.
Maka dalam perbedaan-perbedaan
yang terjadi, mungkin yang paling penting bukanlah siapa yang paling benar,
tetapi bagaimana kita tetap menjaga persaudaraan,
kelapangan hati, dan rasa saling menghormati.
Ramadhan sebenarnya tidak hanya
mengajarkan kita menahan lapar dan dahaga. Ia juga mengajarkan kita menahan ego, menahan keinginan untuk
merasa paling benar, dan belajar memahami orang lain.
Pada akhirnya, Ramadhan selalu
bermuara pada satu titik yang sama: Idul
Fitri.
Hari kemenangan yang seharusnya
tidak hanya menjadi simbol berakhirnya puasa, tetapi juga menjadi momentum untuk
kembali kepada hati yang lebih bersih.
Pada kesempatan ini, secara
pribadi saya ingin mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri kepada para sahabatku semua.
Semoga Allah menerima amal ibadah
kita selama Ramadhan.
Semoga Allah mengampuni segala kesalahan kita.
Dan semoga kita semua diberi kelapangan hati untuk saling memaafkan satu sama
lain.
Karena pada akhirnya, perjalanan
hidup ini bukan hanya tentang siapa yang paling benar, tetapi tentang bagaimana
kita tetap menjaga kasih sayang di
antara sesama manusia.
Taqabbalallahu minna wa minkum.
Mohon maaf lahir dan batin.
Semoga Allah senantiasa
melimpahkan rahmat dan keberkahan-Nya kepada kita semua.
Aamiin.
=gn=

Komentar